Friday, December 30, 2011

August 27th

 semua tentang mu kurangkai disini

Mungkin sedikit terlambat,tetapi nyatanya tak pernah terbatas waktuku untuk menulis tentang dirinya. Tak pernah penat aku menunggu kehadiran nya setiap malam,tak pernah lelah aku memperhatikan nya saat sedang asyik dengan video game favoritnya. Ia tak pernah terlihat begitu tua,dengan semua kawan karibnya ; plants vs zombies,bounce out,mystery case files,atau birds town... Ia tak pernah hidup untuk memperkenalkan jiwa nya yang telah lama bernafas,empat puluh empat tahun.
Ibuku... perempuan paling indah yang pernah aku temui di belahan dunia manapun
Kopi atau blackberry,dan semua kesenangan nya membuat kehadiran nya begitu lengkap.
Seorang pekerja keras yang tak pernah masuk dapur.
Dahulu,ia tinggal dalam ruang-ruang sempit nan dingin,harus jadi babu katanya demi secercah ilmu yang ia idam-idamkan.
Sekarang tak kuperkenankan ia untuk bekerja kasar layaknya ia yang dulu..
Aku selalu bahagia memandang matanya yang selalu tenang. Sekalipun ekor matanya tak pernah tak menatap masalah.

Aku hafal parfum itu
Aku hafal kacamata itu
Aku hafal asap rokok itu
Aku hafal wangi rambut itu
Aku hafal semua jeansnya
Aku hafal semua kausnya
Aku hafal semua kemejanya
Aku hafal semua warna jilbabnya


Kepadamu yang tak pernah penat memeluk
kepadamu yang tak pernah tak pulang untuk mendengarkan ceritaku
kepadamu yang rela menunda keberangkatanmu demi mendengar tangis yang tak tahu harus kulimpahkan pada siapa
kepadamu yang selalu diam disaat semua orang bergerak tak beraturan
kepadamu yang mempersilahkan aku datang ke bumi untuk menghirup nafas-nafas segar yang dianugrahi Tuhan
kepadamu sahabat yang rela mengandung dan berbagi makanan dengan ku
Aku mungkin lalai
Aku mungkin terkadang sudah tidur dan menutup pintu kamarku saat kau pulang
Aku mungkin menyesal sekarang
Tapi pagi ini dan pagi-pagi kemudian
pagi manapun yang Tuhan sediakan untukku
adalah waktuku untuk duduk bersamamu
bercengkrama sebelum kau kembali berkutat dengan semua kerumitan di jalan
sebelum kau berkutat dengan lebih banyak kopi,kertas,dan rokok

Kamu mengandung seluruh rasa suka,cinta,dan tangis malam ku.

kepadamu Ibu...

Kupersembahkan apapun yang lebih indah dari cinta...

Terima kasih,Bu....

Terima kasih Allah,telah melahirkan sosok hawa paling hebat pada bulan Agustus hari ke dua puluh tujuh









Wednesday, December 21, 2011

Dia

Membawa catatan kecil,teh hangat,dan beberapa potong roti kismis
untuk kemudian duduk di padang bungaku,menunggu keramahan badai yang tak pernah kusebut
sebuah malapetaka..
Menghantarkan bunga yang pasti ikut menari mengikuti alunan musik samar-samar...
aku akan bersenandung,pagi ini...

Kepada Dia yang tak kusebut dahulu namanya..
Dia yang bukan seorang bangsawan
Tidak datang dengan gemerlap mahkota dan deret prajurit..
Dia juga bukan lelaki dengan pedang bermata rubi
Tidak datang dengan kuda putih
Dia memang tak memetik gitar untuk membuat ku tersanjung
Dia tak bersyair
Dia tak menjadi yang tersohor atau yang pandai dalam panggung drama
Dia tak menulis bait puisi
Dia bukan mereka
Bukan lelaki manapun
Namun
Dia adalah melodi terindah dalam buku musikku
Dia adalah bait paling syahdu dalam puisi-puisi ku
Dia adalah lelaki yang selalu datang dengan wangi bunga kenanga
Dia adalah lelaki yang punya cangkang paling indah
Dia adalah pendar bulan yang selalu menerangi malam pekatku
Dia adalah adam yang tak pernah bosan kutunggu
Dia  adalah karya indah Tuhan
Melukiskan keindahan surgawi dalam sorot mata tajam
Dia adalah nama yang mungkin terukir dalam Lauhul Mahfudzku
Dia adalah lelaki yang menghentikan derai air mataku
Sebuah pemberian Tuhan yang akan selalu kudekap
Tak kulepas
Dialah lelakiku....

Untukmu yang telah menemaniku dan menjadi mimpi terindahku


Monday, November 7, 2011

Allahuakbar!

Aku masih dengan gelisahku. Batinku masih tergetar belum sama sekali tenang. Saat itu entah pukul berapa,seingatku menjelang dzuhur. Sepersekian menit yang tak akan pernah bisa aku lupakan. Aku tak tau bagaimana caranya,yang tahu....Tuhan tentu saja.
Omong-omong tadi itu pukul sepuluh lewat,belum sampai kepada jam sebelas,kupastikan dengan melihat bbm permintaan tolong,kepada kawanku,tadi...
Mungkin pria tampan yang sedari tadi meringis itu heran memperhatikan tingkahku yang seperti orang linglung,Post Traumatic Disorder. Entah mengerti atau tidak,aku tak mau menulis banyak. Aku enggan berbagi. Namun,aku punya satu cerita mengenai sebuah pelajaran di bahu jalan.

Aku adalah apa yang disebut kuat. Aku bangkit. Tak kurasakan apapun,kecuali detak jantung yang melaju kencang tanpa supir. Tak kupikirkan apapun,kecuali Ia...lelaki itu,makhluk tampan itu... Logikanya,aku tak semestinya "seperti ini". Aku melihat semuanya dengan jelas,dalam gerak lambat,namun aku yakin kejadian itu cepat sekali. Berlawanan.
Ada yang Melindungiku, Aku yakin ada,entah aku tak sanggup lagi berambigu. Aku hanya ingin bilang,Allahuakbar.. Allahuakbar..Allahuakbar.
Sebuah pelajaran mengenai kehati-hatian kupetik,pelajaran mengenai sifat kesetiakawanan,mengenai pikiran negatif yang akan membumihanguskan duniamu,ketika kau tak mau berhenti menyuguhkan batinmu tentang semua itu,kemudian Tuhan akan datang menegurmu, dengan cara yang entah tak akan bisa kau bayangkan... Aku mengalaminya.
Aku masih sangat beruntung...
Siang itu,aku bersujud lebih lama,merenung lebih lama.



"Keajaiban datang pada saat yang tak terduga. Ia datang dan menghampirimu untuk kemudian menyadarkanmu,betapa Tuhan tak lebih jauh dari urat nadimu.."

Sunday, October 9, 2011

Kabut


Selamat pagi? Apakah pagimu datang dengan keramahan? atau datang dengan kata gusar? Bagaimanapun cara pagi datang padamu,cara pagi membelai pipi mu dalam kuasa Tuhan. Bersyukurlah.... Kamu masih punya nafas untuk di berikan kepada hati,kepada jiwa yang tidak mau terlebih dahulu mati...mereka masih punya banyak tugas....seperti aku..
Pagi ini adalah pagi milik minggu...pagi nya orang-orang kelelahan dan ingin terus tidur... Tapi aku cukup puas dengan tidur ku...dengan mimpiku... Mimpi dalam bus...Angan-angan mengenai yang sudah pergi kembali lagi untuk mencium pipi ku dengan hangat... Entah mengapa Tuhan memberikan aku mimpi sepersekian menit itu. Aku berbisik...ia tak mendengar...ia mendekat...mendekatkan seluruh perasaan suka yang tertahan oleh kabut...kepada perasaan suka yang sempat buram karena asap...ia merekatkan daging berwarna merah pucat itu...mendaratkan nya lembut pada pipi ku...aku mendesah...aku tidak tau bagaimana menolak atau bahkan mengelak....aku diam...menikmati semua sentuhan semu yang terasa nyata...Kemudian....aku terbangun..pipi ku basah kuyup...aku menangis.
Pagi ini jiwa ku penuh...mungkin ini akan sedikit panjang...ceritaku mengenai ketidak mengertian ku tentang diriku sendiri... mengenai obsesi ku tentang gunung,lembah teh,dan kabut putih... mengenai keluhan ku tentang hawa dingin yang menusuk tulang rusuk ku..
Aku tidak pernah membayangkan kepergian ku berujung seperti ini. Aku sadar sejak bangun tidur aku hanya melamun... Angan-angan ku melayang jauh kepada jum'at pagi.. aku bersiap-siap untuk pergi naik..Bersama ratusan humani yang sebagian ingin menjadi dan yang sisa nya telah menjadi. Aku duduk pada barisan depan...aku tidak mau menceritakan mengenai hal lain selain lamunan ku di sisi jendela...tentang perasaan tak menentu yang rintik-rintik mulai jatuh.. Tentang daun telinga ku yang tak kuasa menangkap suaranya di belakang..suara berat yang dulu aku tunggu setiap hari... Aku menutupnya dengan lagu...untuk kemudian tertidur aku terlebih dahulu harus menangis... 
Kami sampai dan aku masih dengan perasaan tak menentu dalam relung-relung kosong ini. Aku masih memperhatikannya. Dalam hawa dingin yang tak bisa kusebut menyenangkan... Diantara hamparan teh dan pekerja-pekerja kampung..dewan guru dan teman-temanku... Demi Tuhan aku mencintai suasana ini. Obsesi besar ku mengenai Pegunungan..mengenai awan..mengenai kabut dan angin yang tak kutemui dimanpun... Suasana yang membuat perasaan spiritual ku tak tertahan...aku seperti sedang menghindar... Aku seperti sedang meditasi...perjalanan ku adalah perjalanan penuh emosi... Luapan yang terus-menerus tumpah dalam lamunan panjang...Aku membiarkan ekor mataku terus menangkap gerak-gerik nya. Ia tertawa kemudian aku kembali tersentuh... Demi Allah aku lemah hanya untuk mendengar suaranya.. Aku rapuh saat harus sadar ia yang sejak tadi mondar-mandir bukan lagi kepunyaanku. Entah ada apa dengan sore,malam,dan pagi hari itu. Tanpa sebab yang jelas aku menangis saat kawan ku bilang ada yang sedang sakit dalam kamar. Aku menahan tangis diantara perasaan tak tertahan ini.. Aku masih duduk dengan pemberian darinya. Menghangatkan aku. Aku harus berbohong dan berpura-pura buang angin untuk mengambil air wudhu.. Aku menelan air mataku...susah payah aku menahan semua nya..Tuhan..... aku mau datang untuk nya,diantara kabut dan hawa dingin,aku mau memeluknya....
aku masih menangis,aku gusar hatiku gelisah... Aku dan perasaan tidak enak ini menjalin suatu ikatan yang tidak mau lepas... Aku semakin kacau saat ia datang dengan wajah merah dalam permainan malam hari... kemudian gerimis datang dengan banyak gemuruh... Basahnya tak sebanding dengan jilbab ku... Aku mencuri pandang...aku mendengar suaranya.. Aku terus memperhatikannya... Masih dengan perasaan tak enak dan tangis dibawah gerimis..masih gelap dan masih ada tawa-anak-anak... Gerimis tak lagi ramah..ia turun dan marah menjadi butiran hujan..kami berteduh... 
Berseling dua makhluk ia berdiri sejajar dengan ku. Aku semakin tidak karuan...aku mengalihkan semuanya dengan berdzikir..aku tidak mau sampai ia kembali jatuh...punggung dan lenganku sudah cukup basah dengan air hujan. Aku memang sedih saat ia tidak memperhatikan keberadaanku..saat ia diam saja saat aku kedinginan. Aku tau mungkin ia tak menginginkan aku lagi.. Aku sadar ia sudah acuh... Tapi tetap saja aku tak pandai berkelit dengan perasaan ku sendiri...ia diam saja. berbicara dengan yang lain. Aku bersumpah aku mau menarik tangan nya dan bilang bahwa aku kedinginan..... Tapi aku bukan bagian darinya lagi...ia sudah sepenuhnya melepasku dengan pria tak berperasaan..dengan pria yang menjanjikan ku banyak hal tanpa pernah tau bagaimana perasaan ku. Dulu tak begini...dulu tak begini
aku kemudian melamun...membayangkan pertemuan ku dengan nya pada oktober tanggal 3. Ia menjabat tangan ku..momen dua menit itu aku manfaatkan untuk mengajak nya ngobrol basa-basi..menahan nya pergi dengan kue coklatku...menahan nya pergi dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah kuketahui jawabannya... aku memperhatikan wajahnya... ada rambut-rambut halus pada dagunya...dibawah hidung...tampan dan.....tangan nya dingin sekali. Aku harus kemudian menampar diriku agar sadar dan mau melepas nya kembali ke kelas...
Momen konyol yang setidaknya membuat ku tersenyum...aku menoleh...ia masih berada disitu..ia menawarkan jaketnya kepada perempuan yang lain.. aku tidak cemburu...aku hanya berharap wanita itu aku. 
Aku seperti punya ikatan batin dengan Diny sahabatku...seolah menangkap sinyal ku... sinyal yang menandakan ketidak sanggupanku untuk terus berdiri di sini dan bermain-main dengan ingatan tentangnya....ia datang dan mempersilahkan aku masuk... Aku bergegas masuk..jantungku seperti berhenti saat melintas di depannya...di depan pria dengan mata paling indah yang kini sudah duduk..tak lagi berdiri...
malam itu ada banyak hal yang terjadi...pertengkaran kecil antara kami yang berujung pada pelukan dan permintaan maaf... kawan-kawan ku memang hebat. Kami tidur dengan alas seadaanya..bersama-sama dingin dan makhluk asing yang melintas di atas langit-langit...aku tau...ia memang ada sejak tadi...kawanku juga melihat...aku hanya tersenyum..itu sepele..kita hidup berdampingan dengan 'makhluk-makhluk' lain yang diciptakan Tuhan untuk satu buah keseimbangan. Mereka butuh sedikit menyadarkan keberadaan mereka. Yang terusik karena celotehan anak perempuan yang tak bisa tidur... Pada akhirnya...kami terlelap...menghiraukan malam,menghiraukan anjing yang merobek tempat pembuangan sampah kami...meningggalkan jejak menjijikan di teras....membiarkan hujan membasahi perkebunan teh dan rumah-rumah pekerja...membiarkan anak-anak gadis mendengkur tanpa harus malu pada siapapun..
Malam yang kemudian bertransformasi menjadi pagi membangunkan aku yang tidur dengan angan-angan mengenai pria di rumah sebelah.. Kemudian dengan seluruh keikhlasan ku...aku mengambil wudhu...airnya...mungkin minus nol derajat...dingin sekali...tetapi ini demi sebuah kewajiban...Demi Dzat yang menghidupkan ku kembali pagi ini..Allah Ta'ala
Pagi ini indah sekali...sebelum sarapan aku berjalan pada playlist ku. Menyetel beberapa lagu sembari mengunyah chips kentang rasa keju. Masih dengan lamunan tentangnya... Aku memperhatikan jajaran gunung...membidik nya dengan kamera handphone ku. Seadanya saja...aku hanya mau mengabadikan semua pemandangan indah ini untuk kemudian ku bagi dengan mu...
Pagi yang ini....dingin dan indah... Aku dengan jaket dari nya...kemudian mantel yang dipinjamkan guruku... berdiri untuk kemudian menilai anak-anak terpilih ini.. Aku yang bercanda dengan nya dibawah gerimis. Ia yang menyentuhku. Aku yang menggigil dan bergetar... Aku yang menikmati semua tawa nya..memperhatikan lekuk wajahnya yang maskulin... Saat ia diam...kemudian menoleh mata kami bertemu.. Aku harap.... Ia bisa membaca perasaanku.. Tapi aku tahu...ia tak lagi menginginkan ku... Ia tak lagi memperdulikan keberadaan ku... Aku memang pergi meninggalkannya enam bulan lalu...bukan tanpa alasan aku pergi... Tapi sekarang dengan semua pikiran ku yang tak karuan...aku mau kembali... Bekasnya tak pernah bisa hilang... Teori bodoh yang bilang rasa sayang ini sudah tak ada adalah sebuah kebohongan... Aku bahkan memastikan ini semakin kuat... Aku....tidak jatuh cinta pada siapapun... Aku mungkin mengusahakan rasa suka ku kepada lelaki dengan mustang warna biru itu...Namun,aku mulai ragu...aku merasa dipermainkan...dengan tega ia menggantung aku dan malah bergantung kepada sahabat perempuannya. Menolak ajakanku untuk pulang bersama...dan menghiraukan cerita ku di ujung telepon.. Aku mulai ragu untuk mengusahakan rasa suka ini menjadi rasa sayang. Aku...akan menunggu..hanya sampai akhir tahun,aku mengantongi banyak saran,aku punya satu alasan kenapa aku harus bangkit dari semua pembodohan ini. Buat apa aku mengacuhkan harga diriku,memelas,mengiba kepada pria yang sulit membaca mantra-mantra perasaan ku... Buat apa? 

Aku bisa pergi. Aku bisa menikmati semua kesendirian ku. Aku bahkan memang ingin melarikan diri. Aku tidak menyesali semua keadaan ini. Mengenai aku yang terlampau sakit dengan banyak hal.... Banyak hal... Terutama ketidakberuntunganku mengenai masalah cinta. Aku lelah... Aku memang harus sendiri.. Berfantasi sendiri. Aku mungkin akan mulai mencintai diriku sendiri.. Aku harus.... Terlampau sering aku menghiraukan batas kekuatanku..Aku harus bahagia
Siang datang...kami bersiap-siap pulang...ia datang dengan kaus coklat muda.... Aku masih memperhatikannya
Aku...kini ikut berjalan bersama kawan ku..ini yang terakhir...aku kembali membidik semua kuasa Tuhan dengan kamera handphone ku...
Aku harus mengakui bahwa aku tersentak saat naik ke dalam bus....ia duduk tak jauh dariku... aku tau ini akan menyakitkan dengan lamunan ku tentangnya. Akan semakin kuat mengalir ditambah aku bisa dengan jelas mendengar suaranya... Namun aku membiarkan semua kemungkinan itu bersemayam dalam jiwaku. Selama perjalanan aku hanya melamun...kadang menangis... Aku tidak harus memberitahu karena apa. Kalian sudah tau..aku pasti masih dengan anganku tentang keberadaannya.. Ini aneh..aku terus menyuguhkan alunan lagu pada telinga ku.. Namun aku masih jelas mendengar suara batuknya. Aku diam.... Aku tau harus apa.. Entah sebuah kebetulan atau apa... Satu sentuhan datang untuk menyadarkan ku..mungkin mereka pikir aku sedang asik dengan lagu-lagu ini. Padahal... sudah senyap sekian menit lalu,ketika aku mendengar ia terbatuk. Aku menoleh... Benar saja... Tuhan membaca pikiran ku.. mengenai keinginan ku memberinya seteguk air...ia malah meminta dengan sendirinya.. Aku lega...
Dalam perjalanan panjang Kemudian macet sebagai bumbu... Aku menoleh ke arahnya...ia juga menoleh... Aku mungkin tak terlihat menahan apapun... aku terus menatapnya seolah tak terjadi apa-apa dalam diriku. Padahal yang di dalam sedang berontak..bergejolak tak karuan... Aku menikmati keadaan ini. Kami saling pandang satu sama lain,ia tampak bingung...ia pasti tak merasakan apa-apa sepertiku... aku menjulurkan lidah agar keadaan tidak terlalu serius.. ia masih dengan semua kebingungan nya.. namun aku kembali menghadap ke arah jendela dengan bekal kesenangan.. Aku tersenyum... Aku masih bisa menikmati tatapan nya... aku masih bisa walau dengan cara mencuri. Dulu aku mungkin tak perlu bersusah payah untuk bisa menatapnya seperti tadi... hahaha 
Satu hal yang membuat ini semua begitu berbekas...matanya...

Akhirnya aku mengucapkan salam perpisahan kepada kabut,kepada pagi dan malam yang penuh lamunan..kepada angan-angan dan gerimis. Kepada hujan..kepada anjing...kepada jajaran gunung dan hamparan teh. Kepada para pekerja dan anak-anak kampung dengan wajah paling ceria....
Aku tidak mau mengucapkan salam perpisahan pada perasaan mendalam dan tersembunyi ini.. Tidak mau... Aku akan membawanya sampai kapanpun...

Kabut...Ketika aku tak sanggup hanya untuk mendengar suaranya...menatap wajahnya...masuk kedalam penglihatannya...memandang nya dari jauh dan tidur dengan semua fantasi tentangnya...Aku bahagia
Kabut,.. ketika aku bergetar mendengar tawa nya...ketika aku menangis mendengar ia bersuara... Ketika aku sesak ketika ia menatapku...Ketika aku sedih saat sadar ia bukan milikku... Aku bahagia...
Kabut.....Ketika aku memohonkan satu permintaan kepada Tuhan...Mengenai waktu ku dengan nya di masa depan... Aku bahagia

Kabut......aku akan terus berbicara padamu..Terus sampai kau hilang dan mengikutsertakan aku pada bagian hidupmu...hilang.....dan kemudian terang..

Monday, September 19, 2011

Kepada Ruh Adam

Kepada ruh adam yang kuibaratkan dalam sebuah pendar.
Nama yang berselimut pendar biru.
Kepada ruh adam yang saat ini tak segan menggoda Adinda dalam masa penantiannya.
Penantian mengenai suatu pinangan yang menjadi sebuah rahasia publik.
Kepada......para...ruh adam yang mungkin saat ini sedang panas daun telinga nya.
Aku hanya mau bercerita. Aku hanya mau berbagi suatu perasaan yang mengusik tidur-tidur malamku.
Jadi begini,aku yang saat ini senang menjadi perempuan-perempuan kalian. Tidur dalam dekapan hangat kalian. Bukan karena aku mau melahap nasib-nasib kalian. Tetapi ini karena seorang Adinda benci menebar pahit.
Jadi begini... Aku telah melabuhkan nasib-nasib rumitku kepada adam yang terkesan kurang manusia. Terhadap adam yang entah ruh romantisme nya kemana. Terhadap adam yang pulang dalam perasaan tenang. Ia pulang sehabis membolak-balikan perasaan seorang wanita jawi yang makan anggur asam tadi pagi. 
Jadi begini,saat ini kalian memang sangat terbuai. Aku adalah apa yang kalian sebut sebuah sentra.
Aku hanya takut. Aku hanya mencemaskan perasaan tersembunyi ini...

Bagaimana bila....
suatu saat aku kelak akan sendirian...

Sunday, September 4, 2011

Gelap ( Bagian Terakhir )

Aku pulang. Dalam sebuah kelegaan batin. Dalam lelah yang tak tertanding. Aku pulang. Aku tiba hari ini pukul delapan waktu Indonesia bagian barat. Satu kata..... Alhamdulillahirabbil'alamiin....
Aku wanita yang masih bisa menulis sore ini. Aku masih ada dalam akhir rangkaian perjalanan panjang ini. Aku masih pegang andil sebagai asisten sopir malam tadi. Aku masih bangun pagi-pagi,subuh tadi...... Dan sore ini,aku masih ada untuk kemudian menyelesaikan ceritaku. Bertajuk gelap aku memulai menulis sekitar 1 pekan yang lalu. Aku tanggalkan semua kelegaan,aku palsukan kesenangan. Memberi tempat kepada yang gelap masuk. Kepada satu firasat panjang berjalan-jalan dalam Aku. Aku memperhatikan bagaimana yang gelap itu menjelajah. Mengusik tidur-tidur malam ku yang tidak panjang. Membuat siang hariku lebih panas. Aku tak mengeluh. Aku menikmatinya. Aku memperhatikan. Membiarkan mereka main-main. Melihat.....apa sebenarnya yang firasat itu maksud

Satu pelajaran kupetik... Kekhawatiran datang untuk suatu alasan....Aku hanya perlu bertindak waspada dan berdo'a.. Karena setiap aku meminta.. Aku yakin Ia Maha Mendengar.. Aku yakin Allah bersamaku...

Klise.... namun kenyataan berkata seperti itu...

Selamat sore

Friday, August 19, 2011

Gula

Saya hidup dalam satu lingkaran gula. Manis sekali. Hidup yang telah lama saya jalani,namun manisnya baru terasa saat ini. Entah mungkin selama ini ada rasa yang dengan tidak sengaja masuk dalam lingkaran ini,rasa yang entah datang dari mana,rasa yang beraliran negatif,.rasa yang membuat saya bertindak bagai keledai dungu tanpa telinga. haha bodoh! Namun saya setidaknya lebih cerdik ketimbang kancil. Dengan segenap keberanian (baiklah ini hanya sebesar jagung) saya menendang keluar rasa-rasa asing tak diundang itu. Memfilter kembali hidup saya agar lebih bersih. memfungsikan segala komponen nya dengan baik sebagaimana tempatnya. Sebuah transformasi apik yang pada akhirnya menyajikan manisnya "gula" yang selama ini mengelilingi hidup saya.Gula yang sempat tak terasa manisnya...
Namun,sekarang saya sadar,saya hidup diantara pemanis. Kasih sayang yang saya rasakan dari berbagai sudut. Semua seolah melambaikan tangan ketika saya berlalu. Semua seolah mau datang memeluk saat saya berada pada titik terbawah. Semua,semua pemanis itu adalah mukzizat paling besar.. Saya punya banyak pemanis, sebuah alasan yang menelurkan pemikiran bahwa "saya harus selalu hidup,tidak peduli dalam kehidupan seperti apa". Sebuah zat yang sepertinya dikirim Tuhan khusus untuk saya. Egois memang,namun saya benar-benar merasa memiliki mereka semua... Saya merasa sebuah keharusan membahagiakan pemanis-pemanis yang hadir seperti halo dan saya pusatnya... Saya tidak boleh mati dulu.
Dunia ini.....pernah menyajikan momok paling bengisnya kepada saya. Namun di perjalanan pulang usai menghadiri pertemuan dengan beberapa pemanis ,sebuah pemikiran muncul,angin malam membelai tak lagi menampar....Kota ini kenangan..Saya mungkin bisa kasih pemisalan satu saja..Sebuah halte...yang menjadikan saya ada pada puncak teratas kompetisi pembuatan film pendek.. Mereka,pemanis-pemanis itu,dulu berkumpul disitu. Membiarkan zat paling panas diatas ubun-ubun itu membakar...memeras peluh..Haus....keringat...dan semua bau kemenangan itu,masih tergambar jelas..saat yang sebagian tertawa kemudian yang lain menyahut dengan senyum...Sebuah ingatan segar yang saya syukuri datang pada malam hari ini. Dunia adalah ladang kebaikan. Dunia terlihat sangat baik kepada saya. Mereka  punya masing-masing simpulan senyum pada bibirnya....Mereka sang pemanis.

Kepada semua pemanis-pemanis yang saat ini ada. Percayalah bahwa kasih sayang ini adalah sebuah keabadian.... Saya datang dan kemudian akan kembali pergi...sebuah perjalanan panjang.......kemudian mengecap manisnya jejak gula yang kalian tinggalkan dalam hidup saya adalah sebuah bekal, sebuah pertolongan..
Terima kasih kepada Dia dan segala Keagungan Nya. Allah SWT...
Terima kasih banyak untuk semua pemanis...
Terima kasih untuk memberi saya sebuah pelajaran bersyukur :)

Bonne nuit......


Tuesday, August 2, 2011

Biru

Malam itu aku sedang berada di sebuah pematang sawah.. Aku melihat cahaya biru melesat satu demi satu menuju sebuah tempat nun jauh di sebelah barat. Aku berlari...mengejar apa yang sedang melesat. Aku sampai kepada sebuah savana.Aku dengan keberanian yang hanya sebesar butiran jagung itu,berjalan masuk ke dalam kegelapan. Ilalang yang menjulang tinggi. Aku menggigit bibirku. Apa itu? Seorang adam....Ia datang dan menyentuh punggung tanganku halus. Tersenyum. Aku balik tersenyum. Aku enggan menarik tanganku kembali. Sebab ia terlihat meng-iba mengais kasih. Aku tidak pernah merealisasikan kata "tidak" secara lantang. Aku tidak pernah mempelajari ilmu menolak. Aku diam. Ia diam. Kami saling pandang dengan simpulan senyum. Aku tidak sedang memandang seorang lelaki yang aku sukai. Jantungku berdetak teratur. Aku datar dalam keheningan malam di tengah ilalang tinggi yang menjulang. Lelaki itu kemudian melepaskan tanganku. Memposisikan nya lagi disamping paha gempalku. Ia kemudian berbalik dan berjalan di belakangku. Aku kembali melanjutkan pencarian pendar atau cahaya biru yang melesat tadi. Lagi-lagi pria yang sama. Dengan senyum yang sama. Dengan perasaanku yang masih sama. Datar. Rupanya memang lain. Tetapi raut wajahnya tetap memelas. Apa aku pernah bilang aku pandai dalam hal menolak? tidak. Lelaki kedua ikut membuntutiku. Akubertemu dengan 4 orang lelaki dengan raut wajah penuh pengharapan. Mereka semua tampan. Dan mereka semua membuntutiku. Sesekali aku menoleh. Memastikan apakah adam-adam itu masih betah berada di belakangku. Aku tercekat. Sebuah pendar merah mengelilingi tubuh mereka. Sebuah sulut kemarahan. Apa yang telah terjadi? Aku berujar pelan dalam hati. Mereka saling pandang satu sama lain. Sesekali berdesis. Aku ngeri.
Malam yang semakin dingin menembus mantel tebalku. Menusuk tulang-tulang putih yang dibalut kulit sawo matang. Aku masih dengan misiku. Menemukan pendar atau cahaya biru itu. Aku terus berjalan. Dengan empat lelaki yang terus mengekor.
Aku sampai kepada sebuah ujung tebing. Tidak curam. Sebuah tebing landai dengan hamparan rumput hijau. Sebuah pemandangan mega spektakuler sedang terjadi. Aku akhirnya menemukan cahaya atau pendar biru itu. Jumlahnya 4 buah. Berlagak seperti kemarau yang merindukan sebuah oase. Aku berlari..aku hampir terpeleset. 4 orang lelaki dengan tangan kekar mereka sontak menggenggam ku. Menahan tubuhku hingga tak sampai jatuh. Aku tersenyum. Lalu berujar pelan "terima kasih". Tidak ada jawaban. Aku kembali menuruni lembah landai itu. Sekarang aku lebih waspada. Lelaki itu tetap berada di belakangku.
Tiba-tiba bulu kudukku berdiri seolah dipacu.. Ya Tuhan apa yang mereka lakukan...mereka bergumam tak jelas... hmmm hmmm...aku lanjut berjalan. Dengan sisa sisa keberanianku..aku menghiraukan gumaman itu.. lama-kelamaan gumaman itu semakin nyaring saja..menciptakan sebuah harmonisasi....menenangkan walalupun sedikit berat....gumaman itu berubah menjadi sebuah nada....mereka sedang bersenandung...lagu yang awalanya terdengar seram...sekarang berubah menjadi harmonisasi yang menguatkan langkahku...sebuah ketenangan batin... Ah aku terus berjalan...aku hampir sampai....mataku terpejam....menikmati hawa dingin yang membunuh...menikmati hawa khas malam hari....menikmati dendangan lembut dari 4 orang lelaki itu....aku akan sangat marah apabila pagi menjelang dengan cahaya oranye nya.
Aku sampai pada cahaya atau pendar itu. Aku tercekik...Tercekat...terkejut....Aku kini menyadari itu adalah sebuah pendar yang mengelilingi 4 orang adam....yang....kukenal....mereka adalah masa laluku Aku benci harus menelan bulat-bulat tanda tanya ini....ada apa dengan semua ini.. 4 pendar yang melesat itu datang dengan senyuman nya...menyuguhkan aku sebuah kesegaran yang pernah aku rasakan...aku nikmati dulu.....mereka dengan masing-masing kenangan masa lalu indah itu berebut menjemput ruh ku untuk berkelana... Aku tidak lagi bisa merasakan sendi di lututku....aku tidak boleh terhanyut... Aku bangkit...Aku memandang mereka satu demi satu... 4 lelaki yang baru aku temui diperjalanan...dan 4 orang lelaki dari masa laluku....
Mereka menatapku penuh pengharapan... Aku muak dengan tatapan itu...namun apa daya...aku tidak pernah mau menghardik...menciptakan sulut api seperti mereka...
Aku berjalan perlahan.... Aku jatuh tersungkur di satu titik... Aku diantara 8 pendar biru. Mereka mengelilingiku. Membentuk sebuah lingkaran... Aku yakin akan sangat indah dipandang dari atas...seperti halo..dan aku pusatnya...
Malam dingin yang semakin merasuk...mereka masih berdiri....aku masih dengan tubuh lemasku...aku kemudian duduk.... Diam....hening.....
tiba-tiba...satu suara keluar....sebuah puisi...cinta...syahdu..... Aku diam menikmati tiap bait yang entah berasal dari lelaki yang mana... Lama kelamaan ramai...semua...berebut....merayuku.....Puisi itu tak lagi indah...berubah menyeramkan..seperti sebuah pertempuran... Aku tidak tahan lagi..Aku muak...Aku lelah berada diantara mereka...Aku lelah bermanis-manis......AAAAAAAAAAAH! sebuah lengkingan panjang memecah keheningan malam... Aku lah empunya...bibir kecil pecah-pecahku sumber segala teriakan itu... Aku terpejam selagi berteriak.... Aku sungguh tak berani membuka kelopak mataku..entah apa yang terjadi dengan 8 pendar itu...
Aku adalah wanita yang tidak kenal waktu malam itu. Malam itu panjang sekali. Aku perlahan membuka kedua mataku. Mereka ya mereka 8 lelaki itu masih berada di posisinya...Namun kini mereka diam..mentapku dingin...namun tetap penuh kasih...Air mataku perlahan jatuh..menjadi sebuah butiran-butiran putus asa yang mengalir dengan sebuah kesedihan....pilu yang basah membuat penglihatanku kabur.
Aku terjebak. Diantara 8 pendar biru.. Aku tersesat diantara malam dan pagi. Malam yang pekat...Yang dingin..
Aku tidak tahu apa itu jalan keluar...yang aku tahu....aku tengah berada disini...diantara 8 pendar biru..
Aneh. Memuakkan.......aku kemudian terpejam......... Tuhan....dan semesta...... Apakah aku harus lari? Sementara salah satu diantara mereka telah berhasil menjemput ruh ku...... untuk berkelana?

Monday, August 1, 2011

Diantara

Dua hari aku terusik oleh lamunan panjang mengenai sebuah kekhawatiran. Mengenai sebuah kebingungan yang menelurkan sebuah tanda tanya besar,tak sampai menetas.. Mengenai dua adam yang bertingkah seperti kertas buram. Gusar. Entahlah ini bukan sebuah hal yang wajar memang... Aku yang seolah-olah salah namun tidak mau disalahkan. Adam dengan sebuah egoisme besar di dalam ruh kekarnya... Menghardik dalam sekelumit kalimat dengan nada kotor! Dia adalah apa yang sulit aku pahami semenjak purnama ke sepuluh. Stagnan. Selalu seperti itu. Ia adalah makhluk stagnan yang mengaku dinamis. Aku bahkan terus menerus diam selama ini,membiarkan ruh kekar berlalu dengan badai. Namun aku sampai kepada hal yang disebut jengah.Entah apa yang baru saja kau saksikan wahai ruh dengan jasad kekar. Aku dan apa? Mengapa kau begitu senang dengan kosakata kotormu?
Entah lah....aku dan apa yang tengah ku kandung dalam hati telah melakukan sebuah perjanjian kecil,persekutuan panjang yang telah kusepakati. sebuah teori "tidak peduli: yang harus senantiasa aku realisasikan dalam menghadapi adam dengan mata paling indah itu. Adam yang masih aku sayangi..namun harus ku pudarkan semua itu..harus...
Kepada kamu yang belum bosan beranjak dalam keheningan....Tidak pernah penat menebar bingung..ranah panjang penuh permainan yang kau ciptakan dalam kuas imajinasimu... Melukiskan sebuah kisah tanpa pegangan,sebuah kisah yang lebih memilih menggantung kepada banyak humani. Ada apa dengan 3 hari tanpa kabar itu? kau pasti melihat sesuatu..kau pasti menyadari sesuatu...entah ekor matamu menangkap apa,atau daun telinga mu yang menyimpulkan apa. Aku bergantung kepada seluruh pengharapanku... kamu tau maksudku...kamu belum bilang apapun...masih tetap diam dalam diam
Pada akhirnya lamunan ku harus menemui sebuah akhir... Aku dan semua kekhawatiran itu adalah aku dengan 50 persen kesalahanku...namun sebaiknya katakan apa itu...gusar adalah ketika kau berada dalam sebuah lalu lintas ramai tanpa seorang teman pun. Mendengar yang berbisik tanpa bisa menangkap sebuah wacana panjang....
Diantara senja dan malam...diantara kesal dan perasaan bersalah semu....diantara benci dan sebuah kasih sayang dalam kotak yang segera kukunci rapat...Diantara sebuah fusi dan realitas....Aku dengan segenap marah yang sedang kugenggam.... menghantarkan ketidakpedulian..setuju atau tidak aku lebih baik terpejam..

Saturday, July 23, 2011

Tentang Mereka yang datang lagi Untuk Sebuah Pesan

Ingatan kalian pasti masih sangat segar dengan salah satu postingan ku yang bertajuk 'mereka datang lagi' atau mungkin sudah diperkeruh atau di buat galau karena senyum simpul? hahaha aku bercanda. jangan dianggap serius. Hei kamu yang disana lebih baik turunkan alismu. Pembicaraan kita kali ini memang lagi-lagi mistis.Namun tidak akan ada penampakan atau apapun,hanya ada sebuah jawaban dari segala sesuatu yang 'mengintai' saat itu. Oh iya omong-omong hari ini,Sabtu 23 Juli 2011 tepat satu tahun kematian Om John. Semoga.....semoga...hmm anda baik-baik saja ya.... Ya..semoga..
Baik,aku mulai merasa sedikit dipermainkan dengan pikiran ku sendiri,maka sebaiknya kali ini aku yang mempermainkan pikiran,memaksa mereka membuka semua yang dengan sadar mereka alami. Kita impas ^V^
Aku pernah bilang mengenai mereka yang dulu datang untuk sebuah pesan. ya kematian Om John. Mereka datang untuk pesan itu... Lalu mereka yang akhir-akhir ini datang,pada awalnya belum memberi pesan atau sinyal. Namun tidak sejak tanggal 18 Juli 2011. Pesan nya datang. Mbah Ripan,tetanggaku,meninggal dunia tepat saat menjelang maghrib.
Aku tidak mengerti pasti,apa memang rentetan kejadian aneh itu datang untuk pesan ini. Aku tidak tahu. yang aku tau.. Hari itu memang semua seperti tidak pada tempat persinggahan nya. Aku mual. Perasaanku tak enak. Maka aku memutuskan untuk mandi. Selesai mandi. Semua berubah seolah ada hal mengguncangkan yang terjadi saat aku di dalam. Ya memang ada. Ada yang sedang dicabut nyawanya. Jangan kaget! itu sebuah realitas. Ia meninggal.dalam ketenangan nya,meninggalkan semua rasa sakit dan jejak cuci darahnya. Ini pasti yang terbaik. Selamat Jalan. Kalau memang ini maksudnya.. Ya Rabb.....PesanMu telah kuterima...

Wednesday, June 8, 2011

Badai Bunga

Badai nya telah datang.. saya seharusnya ikut terbawa,namun saya menyempatkan untuk memberi kabar kepada semua... saya akan terbawa badai untuk beberapa saat... saya akan hilang sebentar,tidak perlu dicari... saya masih ada di dimensi dimana kalian berdiri...hanya saja badai ini mengaharuskan saya untuk berhenti sejenak. Badai pasti membawa saya pada sebuah perjalanan panjang... setelah hal itu saya akan kembali dan bercerita :)
Waktu saya tidak banyak.... badai ini tidak akan mau menunggu,saya sudah nakal dengan tidak konsisten...

jadi....
selamat siaaaaaaaaaaaaaang..........

Friday, June 3, 2011

Kukatakan 2011 adalah cobaan

April,Mei,dan Juni. Allah SWT menciptakan bulan-bulan itu tentu saja tanpa maksud menyakiti salah satu hambanya terutama aku. tetapi pada realitasnya bulan-bulan yang sakit adalah bulan April Mei dan Juni di tahun 2011. Subuah masalah kompleks yang mungkin lain waktu akan ku tulis disini. Terlalu banyak air mata,terlalu banyak melamun,terlalu banyak konflik. Kalau sudah sampai lelah tentu saja aku ingin pergi,itulah aku ingin terbawa badai bunga,entah menjauh kemana...
kukatakan 2011 adalah yang paling berat. Aku remaja yang bisa dikategorikan tidak bahagia
selama hampr 210 hari setiap pagi bangun dengan mata sembab.
entahlah...

Tanpa Daya

Malam ini aku tidur dengan 10 tangkai mawar
aku tidur dengan sehelai kertas
malam ini aku benar-benar sakit
malam ini malam yang sadar

Mawar putih yang membawa
nafas-nafas dari relung-relung
yang semakin kosong

sehelai kertas itu mampu melukai ku
melubangi hatiku

Masnawi ini kini telah hancur
bukan lagi rapuh

aku adalah cermin
lihat bagaimana yang melepas yang menangis


aku menjatuhkan sebuah benda di persimpangan
tetapi tak bisa ku ambil kembali

aku tidur dengan 10 tangkai mawar putih
aku membiarkan alunan itu terus menerus
menderai airmataku

aku biarkan yang diseberang berbicara
tanpa menyadari aku sedang apa

aku dan sehelai kertas
dia bilang dia rindu padaku
dia bilang dia rindu rumahku
dia bilang dia rindu punggung tanganku
dia bilang dia rindu pada kecupan dan dekapanku

aku tidur dengan 10 tangkai mawar putih
dalam sebuah kesuraman
langit-langit kamar yang berair
penglihatan yang kabur

kali ini aku tak takut gelap

aku sakit malam ini bersama dengan 10 mawar putih darinya

dicintai itu lebih sakit

berikan aku satu buah mimpi setiap malam Tuhan
izinkan kami bersma hanya dalam sebuah angan di bawah kesadaran
mengapa aku sempat mencintai mu?
mengapa kamu beda
mengapa malam ini aku tidur tanpa daya

memohon kepada semesta

Saya minta waktu untuk keluar
minta waktu untuk sejenak melupakan apa yang di sebut masalah
minta waktu buat bungkam,diam,bisu,sepi,sunyi,hening
minta waktu untuk Habluminallah
minta waktu untuk saya dan Yang Menciptakan
minta waktu untuk meninggalkan hal fana yang selama ini saya jadikan tempat hidup
minta waktu untuk sendiri,merenung,berbicara kepada hati
merefleksikan banyak hal,tapi yaa... cuma sendiri
minta waktu untuk mundur tak lagi sejajar dengan kalian
Rasanya saya sudah keberatan dosa
saya sudah hina dan terbuang
saya sampai hati mengutuk diri
saya mau mati suri
sebentar hanya sebentar

saya benar-benar harus berfikir
saya harus kosong dulu sementara
saya harus lupa sama yang njelimet

semua orang punya saat dimana mereka harus sendiri dan berfikir.

Saya pamit

Boy!

Kau sulit
Kau sukar
Kau misteri
Kau bagai mencari jarum di belukar
Mumet
Tak Terprediksi
Tak Terperikan

Boy! apa yang kau sembunyikan di balik senyum sinis mu?
Apa yang kau sembunyikan dibalik setelan abu?

Aku ditinggal dengan sejuta pertanyaan
Kau memusingkan

Bingung harus apa
Kerjaan ku hanya bengong saja,tertawa aku dianggap gila...

Penasaran..

Kau gila
gila kau

Boy boy....

Balance

Entah apa rencana tuhan hari ini
Saat ini pukul 23:50 dan saya masih terjaga
Masih dengan senyum tanpa arti tersungging..
Entah ada apa dengan malam ini
Tidak ada sesuatu yang spesifik terjadi
Entah tapi saya merasa ini malam yang berbeda

Hari ini tuhan menetapkan takdir saya pada suatu keadaan yang agaknya menggilitik
Saya ditempatkan pada hari dimana saya tertawa,marah,tersenyum kecut,menangis,malu,kesal,menyesal... semua dalam 1 hari
semuanya terjadi begitu cepat dan berseling teratur

Ketika saya menengadah kan tangan pukul 22:00 tadi saya mencoba merefleksikan sesuatu
Apa yang saya rasakan malam ini adalah sesuatu yang bahkan saya tidak pernah rasakan di malam-malam yang lalu
saya merasa seperti pulang kampung
saya merasa hidup saya kembali di jalurnya

Keseimbangan antara marah saya,sedih saya,malu saya,senang saya terjaga dengan baik

Hal ini sempat jomplang beberapa hari yang lalu dimana 1 diantara lainnya mendominasi
dan saya sadar itu sangat salah

Sekarang hati dan otak saya berperan dengan sesuai

sekarang saya punya hati untuk merasa malu,marah,sedih,penat,memperhatikan,menghargai,mengerti,Habluminallah..
tempo hari saya pakai hati hanya untuk marah..

Sekarang saya punya otak untuk berfikir positif,untuk berfikir sebelum bertindak dan berbicara
tempo hari saya memakai otak untuk membantu mencari kata-kata yang pas untuk memaki dan berbohong..

saya kembali kepada hidup saya yang seimbang

Saya punya teman
Saya juga punya musuh

saya menyadari sesuatu yang berlebihan di tempo hari perlahan saya tinggalkan

Inilah kekuatan dari Do'a
Berdo'a ketika kita tak lagi bisa melakukan apa-apa
Berdo'a ketika kita merasa ini adalah akhir

Do'a adalah satu satu nya cara untuk merubah takdir

Malam ini saya mencampuradukan sesuatu
Berfikir
Merenung

Saya tersenyum
Saya bisa tidur sekarang
Saya bahagia mengetahui
bahwa saya telah pulang ke kehidupan lama saya..

Ini Menyenangkan

Muak

Awalnya bahkan tidak seperti ini
saya hanya diam kemudian acuh
ketika nama saya di sebut saya hanya menengok ketika diselingi hinaan saya hanya menunduk

Muak kini datang merasuk
entah ada kebencian di ekor mata ketika mengarah kepada dia yang namanya tak akan kusebut
ada perasaan marah tiap kali ada dia nama yang tak akan kusebut
Mengutip sedikit perkataannya
hal ini merupakan suatu yang lumrah
saya sadar memang iya

Namun dasar orang baik beradu munafik

saya tidak akan ambil pusing

hanya kini semua seri

Jadi,siapa yang menyulut api peperangan?

Tentang hidup

"Aduh nasib yang ganas,yang buas,yang tak menaruh iba kasihan! Alangkah sampai hatimu merebut apung-apung dari orang,yang baru hendak menyeberang lautan yang penuh gelora,memadamkan suluh orang yang hendak menempuh rimba yang lebat dalam gelap-gulita! Aduh nasib yang kejam,mengapakah engkau merendahkan yang telah rendah,mrematahkan yang telah terkulai?
Dunia ini penuh keajaiban dan keheranan!
Disini orang tak berhenti dirundung azab-sengsara,di sana orang seolah-olah diturut oleh kemujuran,keuntungan,kesejahteraan,dan kemuliaan..."


Diagnosis

Saya tidak tahu benar apa yang terjadi di belakang saya. Tidak tahu sebenarnya apa yang mereka bicarakan. Semua berubah cepat,drastis,dan saya cukup dipusingkan akan hal itu. Saya tidak diberi kesempatan untuk sekalipun memberi penjelasan,kebohongan dan ketidakbenaran mengalir begitu saya tanpa dibendung. Mengasyikan kah bagi anda? Ini baru sekedar paradigma saya saja,hati saya sedang bermain tebak-tebakan.. Baru dugaan,baru hipotesa saja. Ini persepsi saya namun saya sendiri menjadi sangat muak dengan ini. Entah benar atau tidak anda lah sang eksekutor. Semua sangat berhubungan bila disambungkan Entah mengapa kali ini saya percaya pada insting. Selagi belum ada kejelasan. Saya akan tetap menyalahkan anda atas kebisuan yang terjadi antara saya dan kawan saya yang dicurigai. Pertanggung jawabkan 3 Edisi world soccer saya. Kami bahkan tidak seperti yang anda bicarakan. Berlebihan dan berulah! Satu lagi saya kehilangan teman buah dari kesalahpahaman..

Fenomena

Kala itu senja ketika sebuah perkumpulan telah selesai dihadiri, saya duduk di sisi jendela. Tercengang,ya... Tersentuh lebih tepatnya,melihat apa yang disebut problem yang sebenarnya. Melihat yang mengais meminta iba,melihat yang tertawa diantara pembatas jalan. Mereka hidup dirundung masalah,saya yakin. Seketika saya seperti dihantam malu. Apa yang baru saja saya alami,ketika mata ini menjelajah halaman yang cukup menaikan kadar emosi,saya marah,berlebihan. Menganggap ini yang terberat yang tak dapat lagi dipikul,yang sulit dan yang memusingkan...
Sungguh.....Tidak,tidak seperti itu realitasnya... Apa yang saya ributkan? Kita sama,telah disetarakan derajat kita oleh Tuhan.. Mengapa sebuah beban yang tidak begitu berat,terlihat mendominasi hidup saya. Hey,ini sebuah hal yang klise,lihatlah ke bawah dan kau akan tersadar.
Tuhan menempatkan saya pada posisi yang benar,saya menyadari betapapun hinaan itu datang,saya masih dapat berdiri tegak mengatur barisa kolaborasi demi tercapainya sebuah tujuan,saya masih bisa menikmati apa yang disebut makanan,saya masih bisa merasakan apa yang orang bilang cinta,saya masih sempat bersujud kepada Yang Kuasa,saya masih bisa memperhatikan sang pahlawan hingga 1 pekan,saya masih bisa bertahan. Lalu apa yang saya ributkan? Pedulikah dengan semua celoteh itu,hinaan itu,sindiran itu,akan semua pembicaraan yang jauh dari kata penting... Tidak Adinda tidak berhenti bergerak hanya karena sebuah kutipan. Kuat ya kuat saya adalah apa yang mungkin disebut kuat,tidak ada yang perlu di khawatirkan,sebuah fenomena yang saya nikmati senja ini,membawa sebuah perubahan pada mungkin senja-senja yang lain..

Ingat,lihatlah kebawah,yang lebih terjerumus... Ya nasib memang selalu mematahkan yang telah rapuh,sabar.

Salam

Badai bunga itu judul yang tidak berarti apa-apa,saat membuat blog ini saya hanya berharap dapat terbawa badai,pergi menjauh dari masalah-masalah yang rumit ini. Saya bingung badai apa yang tidak membuat mata kelilipan seperti badai pasir,tidak membuat kedinginan seperti badai salju,atau tidak membuat saya menangis seperti Badai pasti berlalu (oke ini bercanda) jadi saya pikir apa sesuatu yang indah yang harum dan yang tidak sakit,Bunga! walaupun sedikit beresiko terbawa badai bunga mawar dan ephorbia. Tapi yasudahlah yang penting akhirnya saya memilik sebuah media pemuas menulis. Sebelumnya saya yang pada blog ini disebut "Wanita Yang Terbawa Badai" *clap hands* sudah sering menulis pada Notes Facebook saya http://www.facebook.com/profile.php?id=1607181023&sk=notes dan juga Memopad pada Blackberry saya. Jadi beberapa tulisan di 2 media itu akan saya repost pada blog ini. Tidak masalah bukan? Selamat pagi dan selamat menikmati badai bungaku...