Friday, June 3, 2011

Fenomena

Kala itu senja ketika sebuah perkumpulan telah selesai dihadiri, saya duduk di sisi jendela. Tercengang,ya... Tersentuh lebih tepatnya,melihat apa yang disebut problem yang sebenarnya. Melihat yang mengais meminta iba,melihat yang tertawa diantara pembatas jalan. Mereka hidup dirundung masalah,saya yakin. Seketika saya seperti dihantam malu. Apa yang baru saja saya alami,ketika mata ini menjelajah halaman yang cukup menaikan kadar emosi,saya marah,berlebihan. Menganggap ini yang terberat yang tak dapat lagi dipikul,yang sulit dan yang memusingkan...
Sungguh.....Tidak,tidak seperti itu realitasnya... Apa yang saya ributkan? Kita sama,telah disetarakan derajat kita oleh Tuhan.. Mengapa sebuah beban yang tidak begitu berat,terlihat mendominasi hidup saya. Hey,ini sebuah hal yang klise,lihatlah ke bawah dan kau akan tersadar.
Tuhan menempatkan saya pada posisi yang benar,saya menyadari betapapun hinaan itu datang,saya masih dapat berdiri tegak mengatur barisa kolaborasi demi tercapainya sebuah tujuan,saya masih bisa menikmati apa yang disebut makanan,saya masih bisa merasakan apa yang orang bilang cinta,saya masih sempat bersujud kepada Yang Kuasa,saya masih bisa memperhatikan sang pahlawan hingga 1 pekan,saya masih bisa bertahan. Lalu apa yang saya ributkan? Pedulikah dengan semua celoteh itu,hinaan itu,sindiran itu,akan semua pembicaraan yang jauh dari kata penting... Tidak Adinda tidak berhenti bergerak hanya karena sebuah kutipan. Kuat ya kuat saya adalah apa yang mungkin disebut kuat,tidak ada yang perlu di khawatirkan,sebuah fenomena yang saya nikmati senja ini,membawa sebuah perubahan pada mungkin senja-senja yang lain..

Ingat,lihatlah kebawah,yang lebih terjerumus... Ya nasib memang selalu mematahkan yang telah rapuh,sabar.

No comments:

Post a Comment