Selamat pagi? Apakah pagimu datang dengan keramahan? atau datang dengan kata gusar? Bagaimanapun cara pagi datang padamu,cara pagi membelai pipi mu dalam kuasa Tuhan. Bersyukurlah.... Kamu masih punya nafas untuk di berikan kepada hati,kepada jiwa yang tidak mau terlebih dahulu mati...mereka masih punya banyak tugas....seperti aku..
Pagi ini adalah pagi milik minggu...pagi nya orang-orang kelelahan dan ingin terus tidur... Tapi aku cukup puas dengan tidur ku...dengan mimpiku... Mimpi dalam bus...Angan-angan mengenai yang sudah pergi kembali lagi untuk mencium pipi ku dengan hangat... Entah mengapa Tuhan memberikan aku mimpi sepersekian menit itu. Aku berbisik...ia tak mendengar...ia mendekat...mendekatkan seluruh perasaan suka yang tertahan oleh kabut...kepada perasaan suka yang sempat buram karena asap...ia merekatkan daging berwarna merah pucat itu...mendaratkan nya lembut pada pipi ku...aku mendesah...aku tidak tau bagaimana menolak atau bahkan mengelak....aku diam...menikmati semua sentuhan semu yang terasa nyata...Kemudian....aku terbangun..pipi ku basah kuyup...aku menangis.
Pagi ini jiwa ku penuh...mungkin ini akan sedikit panjang...ceritaku mengenai ketidak mengertian ku tentang diriku sendiri... mengenai obsesi ku tentang gunung,lembah teh,dan kabut putih... mengenai keluhan ku tentang hawa dingin yang menusuk tulang rusuk ku..
Aku tidak pernah membayangkan kepergian ku berujung seperti ini. Aku sadar sejak bangun tidur aku hanya melamun... Angan-angan ku melayang jauh kepada jum'at pagi.. aku bersiap-siap untuk pergi naik..Bersama ratusan humani yang sebagian ingin menjadi dan yang sisa nya telah menjadi. Aku duduk pada barisan depan...aku tidak mau menceritakan mengenai hal lain selain lamunan ku di sisi jendela...tentang perasaan tak menentu yang rintik-rintik mulai jatuh.. Tentang daun telinga ku yang tak kuasa menangkap suaranya di belakang..suara berat yang dulu aku tunggu setiap hari... Aku menutupnya dengan lagu...untuk kemudian tertidur aku terlebih dahulu harus menangis...
Kami sampai dan aku masih dengan perasaan tak menentu dalam relung-relung kosong ini. Aku masih memperhatikannya. Dalam hawa dingin yang tak bisa kusebut menyenangkan... Diantara hamparan teh dan pekerja-pekerja kampung..dewan guru dan teman-temanku... Demi Tuhan aku mencintai suasana ini. Obsesi besar ku mengenai Pegunungan..mengenai awan..mengenai kabut dan angin yang tak kutemui dimanpun... Suasana yang membuat perasaan spiritual ku tak tertahan...aku seperti sedang menghindar... Aku seperti sedang meditasi...perjalanan ku adalah perjalanan penuh emosi... Luapan yang terus-menerus tumpah dalam lamunan panjang...Aku membiarkan ekor mataku terus menangkap gerak-gerik nya. Ia tertawa kemudian aku kembali tersentuh... Demi Allah aku lemah hanya untuk mendengar suaranya.. Aku rapuh saat harus sadar ia yang sejak tadi mondar-mandir bukan lagi kepunyaanku. Entah ada apa dengan sore,malam,dan pagi hari itu. Tanpa sebab yang jelas aku menangis saat kawan ku bilang ada yang sedang sakit dalam kamar. Aku menahan tangis diantara perasaan tak tertahan ini.. Aku masih duduk dengan pemberian darinya. Menghangatkan aku. Aku harus berbohong dan berpura-pura buang angin untuk mengambil air wudhu.. Aku menelan air mataku...susah payah aku menahan semua nya..Tuhan..... aku mau datang untuk nya,diantara kabut dan hawa dingin,aku mau memeluknya....
aku masih menangis,aku gusar hatiku gelisah... Aku dan perasaan tidak enak ini menjalin suatu ikatan yang tidak mau lepas... Aku semakin kacau saat ia datang dengan wajah merah dalam permainan malam hari... kemudian gerimis datang dengan banyak gemuruh... Basahnya tak sebanding dengan jilbab ku... Aku mencuri pandang...aku mendengar suaranya.. Aku terus memperhatikannya... Masih dengan perasaan tak enak dan tangis dibawah gerimis..masih gelap dan masih ada tawa-anak-anak... Gerimis tak lagi ramah..ia turun dan marah menjadi butiran hujan..kami berteduh...
Berseling dua makhluk ia berdiri sejajar dengan ku. Aku semakin tidak karuan...aku mengalihkan semuanya dengan berdzikir..aku tidak mau sampai ia kembali jatuh...punggung dan lenganku sudah cukup basah dengan air hujan. Aku memang sedih saat ia tidak memperhatikan keberadaanku..saat ia diam saja saat aku kedinginan. Aku tau mungkin ia tak menginginkan aku lagi.. Aku sadar ia sudah acuh... Tapi tetap saja aku tak pandai berkelit dengan perasaan ku sendiri...ia diam saja. berbicara dengan yang lain. Aku bersumpah aku mau menarik tangan nya dan bilang bahwa aku kedinginan..... Tapi aku bukan bagian darinya lagi...ia sudah sepenuhnya melepasku dengan pria tak berperasaan..dengan pria yang menjanjikan ku banyak hal tanpa pernah tau bagaimana perasaan ku. Dulu tak begini...dulu tak begini
aku kemudian melamun...membayangkan pertemuan ku dengan nya pada oktober tanggal 3. Ia menjabat tangan ku..momen dua menit itu aku manfaatkan untuk mengajak nya ngobrol basa-basi..menahan nya pergi dengan kue coklatku...menahan nya pergi dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah kuketahui jawabannya... aku memperhatikan wajahnya... ada rambut-rambut halus pada dagunya...dibawah hidung...tampan dan.....tangan nya dingin sekali. Aku harus kemudian menampar diriku agar sadar dan mau melepas nya kembali ke kelas...
Momen konyol yang setidaknya membuat ku tersenyum...aku menoleh...ia masih berada disitu..ia menawarkan jaketnya kepada perempuan yang lain.. aku tidak cemburu...aku hanya berharap wanita itu aku.
Aku seperti punya ikatan batin dengan Diny sahabatku...seolah menangkap sinyal ku... sinyal yang menandakan ketidak sanggupanku untuk terus berdiri di sini dan bermain-main dengan ingatan tentangnya....ia datang dan mempersilahkan aku masuk... Aku bergegas masuk..jantungku seperti berhenti saat melintas di depannya...di depan pria dengan mata paling indah yang kini sudah duduk..tak lagi berdiri...
malam itu ada banyak hal yang terjadi...pertengkaran kecil antara kami yang berujung pada pelukan dan permintaan maaf... kawan-kawan ku memang hebat. Kami tidur dengan alas seadaanya..bersama-sama dingin dan makhluk asing yang melintas di atas langit-langit...aku tau...ia memang ada sejak tadi...kawanku juga melihat...aku hanya tersenyum..itu sepele..kita hidup berdampingan dengan 'makhluk-makhluk' lain yang diciptakan Tuhan untuk satu buah keseimbangan. Mereka butuh sedikit menyadarkan keberadaan mereka. Yang terusik karena celotehan anak perempuan yang tak bisa tidur... Pada akhirnya...kami terlelap...menghiraukan malam,menghiraukan anjing yang merobek tempat pembuangan sampah kami...meningggalkan jejak menjijikan di teras....membiarkan hujan membasahi perkebunan teh dan rumah-rumah pekerja...membiarkan anak-anak gadis mendengkur tanpa harus malu pada siapapun..
Malam yang kemudian bertransformasi menjadi pagi membangunkan aku yang tidur dengan angan-angan mengenai pria di rumah sebelah.. Kemudian dengan seluruh keikhlasan ku...aku mengambil wudhu...airnya...mungkin minus nol derajat...dingin sekali...tetapi ini demi sebuah kewajiban...Demi Dzat yang menghidupkan ku kembali pagi ini..Allah Ta'ala
Pagi ini indah sekali...sebelum sarapan aku berjalan pada playlist ku. Menyetel beberapa lagu sembari mengunyah chips kentang rasa keju. Masih dengan lamunan tentangnya... Aku memperhatikan jajaran gunung...membidik nya dengan kamera handphone ku. Seadanya saja...aku hanya mau mengabadikan semua pemandangan indah ini untuk kemudian ku bagi dengan mu...
Pagi yang ini....dingin dan indah... Aku dengan jaket dari nya...kemudian mantel yang dipinjamkan guruku... berdiri untuk kemudian menilai anak-anak terpilih ini.. Aku yang bercanda dengan nya dibawah gerimis. Ia yang menyentuhku. Aku yang menggigil dan bergetar... Aku yang menikmati semua tawa nya..memperhatikan lekuk wajahnya yang maskulin... Saat ia diam...kemudian menoleh mata kami bertemu.. Aku harap.... Ia bisa membaca perasaanku.. Tapi aku tahu...ia tak lagi menginginkan ku... Ia tak lagi memperdulikan keberadaan ku... Aku memang pergi meninggalkannya enam bulan lalu...bukan tanpa alasan aku pergi... Tapi sekarang dengan semua pikiran ku yang tak karuan...aku mau kembali... Bekasnya tak pernah bisa hilang... Teori bodoh yang bilang rasa sayang ini sudah tak ada adalah sebuah kebohongan... Aku bahkan memastikan ini semakin kuat... Aku....tidak jatuh cinta pada siapapun... Aku mungkin mengusahakan rasa suka ku kepada lelaki dengan mustang warna biru itu...Namun,aku mulai ragu...aku merasa dipermainkan...dengan tega ia menggantung aku dan malah bergantung kepada sahabat perempuannya. Menolak ajakanku untuk pulang bersama...dan menghiraukan cerita ku di ujung telepon.. Aku mulai ragu untuk mengusahakan rasa suka ini menjadi rasa sayang. Aku...akan menunggu..hanya sampai akhir tahun,aku mengantongi banyak saran,aku punya satu alasan kenapa aku harus bangkit dari semua pembodohan ini. Buat apa aku mengacuhkan harga diriku,memelas,mengiba kepada pria yang sulit membaca mantra-mantra perasaan ku... Buat apa?
Aku bisa pergi. Aku bisa menikmati semua kesendirian ku. Aku bahkan memang ingin melarikan diri. Aku tidak menyesali semua keadaan ini. Mengenai aku yang terlampau sakit dengan banyak hal.... Banyak hal... Terutama ketidakberuntunganku mengenai masalah cinta. Aku lelah... Aku memang harus sendiri.. Berfantasi sendiri. Aku mungkin akan mulai mencintai diriku sendiri.. Aku harus.... Terlampau sering aku menghiraukan batas kekuatanku..Aku harus bahagia
Siang datang...kami bersiap-siap pulang...ia datang dengan kaus coklat muda.... Aku masih memperhatikannya
Aku...kini ikut berjalan bersama kawan ku..ini yang terakhir...aku kembali membidik semua kuasa Tuhan dengan kamera handphone ku...
Aku harus mengakui bahwa aku tersentak saat naik ke dalam bus....ia duduk tak jauh dariku... aku tau ini akan menyakitkan dengan lamunan ku tentangnya. Akan semakin kuat mengalir ditambah aku bisa dengan jelas mendengar suaranya... Namun aku membiarkan semua kemungkinan itu bersemayam dalam jiwaku. Selama perjalanan aku hanya melamun...kadang menangis... Aku tidak harus memberitahu karena apa. Kalian sudah tau..aku pasti masih dengan anganku tentang keberadaannya.. Ini aneh..aku terus menyuguhkan alunan lagu pada telinga ku.. Namun aku masih jelas mendengar suara batuknya. Aku diam.... Aku tau harus apa.. Entah sebuah kebetulan atau apa... Satu sentuhan datang untuk menyadarkan ku..mungkin mereka pikir aku sedang asik dengan lagu-lagu ini. Padahal... sudah senyap sekian menit lalu,ketika aku mendengar ia terbatuk. Aku menoleh... Benar saja... Tuhan membaca pikiran ku.. mengenai keinginan ku memberinya seteguk air...ia malah meminta dengan sendirinya.. Aku lega...
Dalam perjalanan panjang Kemudian macet sebagai bumbu... Aku menoleh ke arahnya...ia juga menoleh... Aku mungkin tak terlihat menahan apapun... aku terus menatapnya seolah tak terjadi apa-apa dalam diriku. Padahal yang di dalam sedang berontak..bergejolak tak karuan... Aku menikmati keadaan ini. Kami saling pandang satu sama lain,ia tampak bingung...ia pasti tak merasakan apa-apa sepertiku... aku menjulurkan lidah agar keadaan tidak terlalu serius.. ia masih dengan semua kebingungan nya.. namun aku kembali menghadap ke arah jendela dengan bekal kesenangan.. Aku tersenyum... Aku masih bisa menikmati tatapan nya... aku masih bisa walau dengan cara mencuri. Dulu aku mungkin tak perlu bersusah payah untuk bisa menatapnya seperti tadi... hahaha
Satu hal yang membuat ini semua begitu berbekas...matanya...
Akhirnya aku mengucapkan salam perpisahan kepada kabut,kepada pagi dan malam yang penuh lamunan..kepada angan-angan dan gerimis. Kepada hujan..kepada anjing...kepada jajaran gunung dan hamparan teh. Kepada para pekerja dan anak-anak kampung dengan wajah paling ceria....
Aku tidak mau mengucapkan salam perpisahan pada perasaan mendalam dan tersembunyi ini.. Tidak mau... Aku akan membawanya sampai kapanpun...
Kabut...Ketika aku tak sanggup hanya untuk mendengar suaranya...menatap wajahnya...masuk kedalam penglihatannya...memandang nya dari jauh dan tidur dengan semua fantasi tentangnya...Aku bahagia
Kabut,.. ketika aku bergetar mendengar tawa nya...ketika aku menangis mendengar ia bersuara... Ketika aku sesak ketika ia menatapku...Ketika aku sedih saat sadar ia bukan milikku... Aku bahagia...
Kabut.....Ketika aku memohonkan satu permintaan kepada Tuhan...Mengenai waktu ku dengan nya di masa depan... Aku bahagia






Telaga Warna - Puncak. Dibidik dengan Blackberry Curve 8250. Resolulusi rendah ..Maaf kalau membuat penglihatan kalian buram... Aku hanya mau berbagi. Ini juga tentang Keagungan Tuhan...perhatikan!
No comments:
Post a Comment