Sunday, August 14, 2022

Gerbong Terakhir

Aku menulis catatan ini dalam kereta yang  tengah melaju.

Seharian kelana, melepas rindu dengan teman lama…
Ragaku milik mereka. Tapi pikiran dan hati, kau genggam erat, entah di mana..
Di mana? Aku tau di mana.

Hampir saja aku gila, menghampirimu tanpa pikir panjang. Kota ini, punya arti.
Kota ini, punya hati..

Hening masih menari. Tak ada indah-indahnya. Aku justru muak, sakit, hampir tak sadarkan diri.

Ada hilang dalam namamu. Ada rahasia dalam kisahmu. Yang tak ada, hanya kamu.

Kapan, aku kembali? Perjalanan ini tanpa arah dan aku… malah semakin tersesat.

Seribu alasanku untuk semakin mengutuk waktu.

Tapi. Tak akan kubiarkan kisah ini menggantung seperti sebelumnya. Kalau takdir tak sanggup membawanya hingga sampai kesimpulan, Aku yang harus maju memberi titik. Akhir bagi diriku sendiri.

Kabarmu, tak lagi kupendam. Kubiarkan tenggelam bersama semua yang sudah seharusnya.

Dua jiwa rapuh masing-masing Dia yang jaga. Sudah sepatutnya.

Di Gerbong Terakhir ini aku ucapkan perpisahan untuk selamanya..


Ditulis untuk Airin.
Kamu tak lagi tersesat.

No comments:

Post a Comment