Sunday, December 18, 2022

Cerita Lan & Sitta

Ini cerita tentang harapan tanpa kepastian. Tentang perjalanan panjang yang butuh kesabaran..

Lan & Sitta..

Cinta itu lebih dari cinta. 

Teman itu lebih dari teman. 

Hati itu lebih setia dari apapun. 

Tapi jangan keliru… tak ada kisah yang sempurna dan indah. 

Justru jika mereka jadi satu, satu-satu sinarnya meredup, kebersamaan mungkin lambat laun mematikan rasa, mereka kelak hancur, terpisah dan tak tersisa apa-apa untuk dibawa jadi kenangan..

Maka jaraklah yang membuat mereka semakin rapat.. Ruang hidup yang berbeda. Langkah yang berlawanan. Tapi jika hati mereka sedang rindu, sekejap mata jari mereka bertaut lagi.. 

Waktu terus berjalan, banyak hal berubah tapi perasaan itu tetap sama.. 

Rumah, atau apapun di atas itu. Naik lagi.. Naik lagi.. di tempat yang tak terjamah siapapun.. 

Di situ, di situ tempat mereka bertemu.

Tanpa nama.. yang ada hanya satu sama lain..

Tuesday, October 4, 2022

Selamanya

Nafasnya berat selepas membuka mata.. Lagi dan lagi.. Dipaksa ikut skenario mimpi. Alam bawah sadarnya punya rencana sendiri.

Ternyata.. jika sudah selamanya, pasti selamanya...

Mau ditenggelamkan sekalipun, yang tersisa akan naik ke permukaan karena dibiarkan terlepas tanpa pemberat.

Jika bukan di langit yang ini. Bukan bernaung di bawah semesta yang gila ini, mungkin kapalnya,kapalmu akan melaut ke kemungkinan yang tak tersentuh logika manapun.

Di semesta yang lain, dia selamanya menunggumu.. mencarimu.. tak melepaskanmu lagi.




Sunday, August 14, 2022

Gerbong Terakhir

Aku menulis catatan ini dalam kereta yang  tengah melaju.

Seharian kelana, melepas rindu dengan teman lama…
Ragaku milik mereka. Tapi pikiran dan hati, kau genggam erat, entah di mana..
Di mana? Aku tau di mana.

Hampir saja aku gila, menghampirimu tanpa pikir panjang. Kota ini, punya arti.
Kota ini, punya hati..

Hening masih menari. Tak ada indah-indahnya. Aku justru muak, sakit, hampir tak sadarkan diri.

Ada hilang dalam namamu. Ada rahasia dalam kisahmu. Yang tak ada, hanya kamu.

Kapan, aku kembali? Perjalanan ini tanpa arah dan aku… malah semakin tersesat.

Seribu alasanku untuk semakin mengutuk waktu.

Tapi. Tak akan kubiarkan kisah ini menggantung seperti sebelumnya. Kalau takdir tak sanggup membawanya hingga sampai kesimpulan, Aku yang harus maju memberi titik. Akhir bagi diriku sendiri.

Kabarmu, tak lagi kupendam. Kubiarkan tenggelam bersama semua yang sudah seharusnya.

Dua jiwa rapuh masing-masing Dia yang jaga. Sudah sepatutnya.

Di Gerbong Terakhir ini aku ucapkan perpisahan untuk selamanya..


Ditulis untuk Airin.
Kamu tak lagi tersesat.

Thursday, August 11, 2022

Karam

Sang purnama telah kembali.

Binarnya kalahkan seribu mentari.

Aku liar.

Aku lari.

Menghampirinya tanpa perduli jika hangus terbakar.

Kini, jiwanya tak lagi rahasia. 

Jarak tak terhingga yang dulu terbentang di antara kami, sirna sudah.

Kami jadi satu.

Rapat melekat, saling candu.

Kapalku, bukan kapalnya. Aku naik bersamamu...

Tenggelam pun,

bersama kamu..


Thursday, August 4, 2022

Kisah Baru

Dalam persembunyian kami.

Dunia mendadak sunyi.

Yang hidup baris-baris kata, yang mati tanda tanya.

Pudar segala lara...


4 ruang tunggu,

seribu duka,

diiringi doa tak terhingga.


Kami hilang malam-malam, tertelan remang cahaya Sura.

Terbuai angin sore & gemericik suara air di Taman Sari.

Hampir mati tergulung ombak di Selatan Jawa.


Duduk Takjub, memandang mendung,

di atas hamparan sawah, dari balik Jendela Bengawan.

Kami hanyut, larut. Hanya berdua, saling cinta..


Jalan setapak, persimpangan, percakapan, ritual pagi-pagi hingga wajah-wajah baru.

Siapa bilang dunia bukan milik berdua?

Friday, April 1, 2022

Lalu?

Merah terang menyala, dua baris rasa

Yang satu masih malu-malu, hampir wagu

Meski tak terbaca aku melihatmu!

Dara? Kaukah itu?

Salah besar, petir lantas menyambar

Lara disangka selesai, badai malah datang

Lalu... lagi-lagi jalan buntu

Lalu... asa memudar, padahal masih di tengah-tengah perang

Lalu yang sadar mulai ramai berkoar

Katanya... "Yang kuat tarik bangkit!"

Katanya, lagi... "Sama-sama pasti bisa!"


Siapa yang kuat?

Bisa apa?

Lalu apa?

Kuingin mati saja.