Malam itu aku sedang berada di sebuah pematang sawah.. Aku melihat cahaya biru melesat satu demi satu menuju sebuah tempat nun jauh di sebelah barat. Aku berlari...mengejar apa yang sedang melesat. Aku sampai kepada sebuah savana.Aku dengan keberanian yang hanya sebesar butiran jagung itu,berjalan masuk ke dalam kegelapan. Ilalang yang menjulang tinggi. Aku menggigit bibirku. Apa itu? Seorang adam....Ia datang dan menyentuh punggung tanganku halus. Tersenyum. Aku balik tersenyum. Aku enggan menarik tanganku kembali. Sebab ia terlihat meng-iba mengais kasih. Aku tidak pernah merealisasikan kata "tidak" secara lantang. Aku tidak pernah mempelajari ilmu menolak. Aku diam. Ia diam. Kami saling pandang dengan simpulan senyum. Aku tidak sedang memandang seorang lelaki yang aku sukai. Jantungku berdetak teratur. Aku datar dalam keheningan malam di tengah ilalang tinggi yang menjulang. Lelaki itu kemudian melepaskan tanganku. Memposisikan nya lagi disamping paha gempalku. Ia kemudian berbalik dan berjalan di belakangku. Aku kembali melanjutkan pencarian pendar atau cahaya biru yang melesat tadi. Lagi-lagi pria yang sama. Dengan senyum yang sama. Dengan perasaanku yang masih sama. Datar. Rupanya memang lain. Tetapi raut wajahnya tetap memelas. Apa aku pernah bilang aku pandai dalam hal menolak? tidak. Lelaki kedua ikut membuntutiku. Akubertemu dengan 4 orang lelaki dengan raut wajah penuh pengharapan. Mereka semua tampan. Dan mereka semua membuntutiku. Sesekali aku menoleh. Memastikan apakah adam-adam itu masih betah berada di belakangku. Aku tercekat. Sebuah pendar merah mengelilingi tubuh mereka. Sebuah sulut kemarahan. Apa yang telah terjadi? Aku berujar pelan dalam hati. Mereka saling pandang satu sama lain. Sesekali berdesis. Aku ngeri.
Malam yang semakin dingin menembus mantel tebalku. Menusuk tulang-tulang putih yang dibalut kulit sawo matang. Aku masih dengan misiku. Menemukan pendar atau cahaya biru itu. Aku terus berjalan. Dengan empat lelaki yang terus mengekor.
Aku sampai kepada sebuah ujung tebing. Tidak curam. Sebuah tebing landai dengan hamparan rumput hijau. Sebuah pemandangan mega spektakuler sedang terjadi. Aku akhirnya menemukan cahaya atau pendar biru itu. Jumlahnya 4 buah. Berlagak seperti kemarau yang merindukan sebuah oase. Aku berlari..aku hampir terpeleset. 4 orang lelaki dengan tangan kekar mereka sontak menggenggam ku. Menahan tubuhku hingga tak sampai jatuh. Aku tersenyum. Lalu berujar pelan "terima kasih". Tidak ada jawaban. Aku kembali menuruni lembah landai itu. Sekarang aku lebih waspada. Lelaki itu tetap berada di belakangku.
Tiba-tiba bulu kudukku berdiri seolah dipacu.. Ya Tuhan apa yang mereka lakukan...mereka bergumam tak jelas... hmmm hmmm...aku lanjut berjalan. Dengan sisa sisa keberanianku..aku menghiraukan gumaman itu.. lama-kelamaan gumaman itu semakin nyaring saja..menciptakan sebuah harmonisasi....menenangkan walalupun sedikit berat....gumaman itu berubah menjadi sebuah nada....mereka sedang bersenandung...lagu yang awalanya terdengar seram...sekarang berubah menjadi harmonisasi yang menguatkan langkahku...sebuah ketenangan batin... Ah aku terus berjalan...aku hampir sampai....mataku terpejam....menikmati hawa dingin yang membunuh...menikmati hawa khas malam hari....menikmati dendangan lembut dari 4 orang lelaki itu....aku akan sangat marah apabila pagi menjelang dengan cahaya oranye nya.
Aku sampai pada cahaya atau pendar itu. Aku tercekik...Tercekat...terkejut....Aku kini menyadari itu adalah sebuah pendar yang mengelilingi 4 orang adam....yang....kukenal....mereka adalah masa laluku Aku benci harus menelan bulat-bulat tanda tanya ini....ada apa dengan semua ini.. 4 pendar yang melesat itu datang dengan senyuman nya...menyuguhkan aku sebuah kesegaran yang pernah aku rasakan...aku nikmati dulu.....mereka dengan masing-masing kenangan masa lalu indah itu berebut menjemput ruh ku untuk berkelana... Aku tidak lagi bisa merasakan sendi di lututku....aku tidak boleh terhanyut... Aku bangkit...Aku memandang mereka satu demi satu... 4 lelaki yang baru aku temui diperjalanan...dan 4 orang lelaki dari masa laluku....
Mereka menatapku penuh pengharapan... Aku muak dengan tatapan itu...namun apa daya...aku tidak pernah mau menghardik...menciptakan sulut api seperti mereka...
Aku berjalan perlahan.... Aku jatuh tersungkur di satu titik... Aku diantara 8 pendar biru. Mereka mengelilingiku. Membentuk sebuah lingkaran... Aku yakin akan sangat indah dipandang dari atas...seperti halo..dan aku pusatnya...
Malam dingin yang semakin merasuk...mereka masih berdiri....aku masih dengan tubuh lemasku...aku kemudian duduk.... Diam....hening.....
tiba-tiba...satu suara keluar....sebuah puisi...cinta...syahdu..... Aku diam menikmati tiap bait yang entah berasal dari lelaki yang mana... Lama kelamaan ramai...semua...berebut....merayuku.....Puisi itu tak lagi indah...berubah menyeramkan..seperti sebuah pertempuran... Aku tidak tahan lagi..Aku muak...Aku lelah berada diantara mereka...Aku lelah bermanis-manis......AAAAAAAAAAAH! sebuah lengkingan panjang memecah keheningan malam... Aku lah empunya...bibir kecil pecah-pecahku sumber segala teriakan itu... Aku terpejam selagi berteriak.... Aku sungguh tak berani membuka kelopak mataku..entah apa yang terjadi dengan 8 pendar itu...
Aku adalah wanita yang tidak kenal waktu malam itu. Malam itu panjang sekali. Aku perlahan membuka kedua mataku. Mereka ya mereka 8 lelaki itu masih berada di posisinya...Namun kini mereka diam..mentapku dingin...namun tetap penuh kasih...Air mataku perlahan jatuh..menjadi sebuah butiran-butiran putus asa yang mengalir dengan sebuah kesedihan....pilu yang basah membuat penglihatanku kabur.
Aku terjebak. Diantara 8 pendar biru.. Aku tersesat diantara malam dan pagi. Malam yang pekat...Yang dingin..
Aku tidak tahu apa itu jalan keluar...yang aku tahu....aku tengah berada disini...diantara 8 pendar biru..
Aneh. Memuakkan.......aku kemudian terpejam......... Tuhan....dan semesta...... Apakah aku harus lari? Sementara salah satu diantara mereka telah berhasil menjemput ruh ku...... untuk berkelana?
Malam yang semakin dingin menembus mantel tebalku. Menusuk tulang-tulang putih yang dibalut kulit sawo matang. Aku masih dengan misiku. Menemukan pendar atau cahaya biru itu. Aku terus berjalan. Dengan empat lelaki yang terus mengekor.
Aku sampai kepada sebuah ujung tebing. Tidak curam. Sebuah tebing landai dengan hamparan rumput hijau. Sebuah pemandangan mega spektakuler sedang terjadi. Aku akhirnya menemukan cahaya atau pendar biru itu. Jumlahnya 4 buah. Berlagak seperti kemarau yang merindukan sebuah oase. Aku berlari..aku hampir terpeleset. 4 orang lelaki dengan tangan kekar mereka sontak menggenggam ku. Menahan tubuhku hingga tak sampai jatuh. Aku tersenyum. Lalu berujar pelan "terima kasih". Tidak ada jawaban. Aku kembali menuruni lembah landai itu. Sekarang aku lebih waspada. Lelaki itu tetap berada di belakangku.
Tiba-tiba bulu kudukku berdiri seolah dipacu.. Ya Tuhan apa yang mereka lakukan...mereka bergumam tak jelas... hmmm hmmm...aku lanjut berjalan. Dengan sisa sisa keberanianku..aku menghiraukan gumaman itu.. lama-kelamaan gumaman itu semakin nyaring saja..menciptakan sebuah harmonisasi....menenangkan walalupun sedikit berat....gumaman itu berubah menjadi sebuah nada....mereka sedang bersenandung...lagu yang awalanya terdengar seram...sekarang berubah menjadi harmonisasi yang menguatkan langkahku...sebuah ketenangan batin... Ah aku terus berjalan...aku hampir sampai....mataku terpejam....menikmati hawa dingin yang membunuh...menikmati hawa khas malam hari....menikmati dendangan lembut dari 4 orang lelaki itu....aku akan sangat marah apabila pagi menjelang dengan cahaya oranye nya.
Aku sampai pada cahaya atau pendar itu. Aku tercekik...Tercekat...terkejut....Aku kini menyadari itu adalah sebuah pendar yang mengelilingi 4 orang adam....yang....kukenal....mereka adalah masa laluku Aku benci harus menelan bulat-bulat tanda tanya ini....ada apa dengan semua ini.. 4 pendar yang melesat itu datang dengan senyuman nya...menyuguhkan aku sebuah kesegaran yang pernah aku rasakan...aku nikmati dulu.....mereka dengan masing-masing kenangan masa lalu indah itu berebut menjemput ruh ku untuk berkelana... Aku tidak lagi bisa merasakan sendi di lututku....aku tidak boleh terhanyut... Aku bangkit...Aku memandang mereka satu demi satu... 4 lelaki yang baru aku temui diperjalanan...dan 4 orang lelaki dari masa laluku....
Mereka menatapku penuh pengharapan... Aku muak dengan tatapan itu...namun apa daya...aku tidak pernah mau menghardik...menciptakan sulut api seperti mereka...
Aku berjalan perlahan.... Aku jatuh tersungkur di satu titik... Aku diantara 8 pendar biru. Mereka mengelilingiku. Membentuk sebuah lingkaran... Aku yakin akan sangat indah dipandang dari atas...seperti halo..dan aku pusatnya...
Malam dingin yang semakin merasuk...mereka masih berdiri....aku masih dengan tubuh lemasku...aku kemudian duduk.... Diam....hening.....
tiba-tiba...satu suara keluar....sebuah puisi...cinta...syahdu..... Aku diam menikmati tiap bait yang entah berasal dari lelaki yang mana... Lama kelamaan ramai...semua...berebut....merayuku.....Puisi itu tak lagi indah...berubah menyeramkan..seperti sebuah pertempuran... Aku tidak tahan lagi..Aku muak...Aku lelah berada diantara mereka...Aku lelah bermanis-manis......AAAAAAAAAAAH! sebuah lengkingan panjang memecah keheningan malam... Aku lah empunya...bibir kecil pecah-pecahku sumber segala teriakan itu... Aku terpejam selagi berteriak.... Aku sungguh tak berani membuka kelopak mataku..entah apa yang terjadi dengan 8 pendar itu...
Aku adalah wanita yang tidak kenal waktu malam itu. Malam itu panjang sekali. Aku perlahan membuka kedua mataku. Mereka ya mereka 8 lelaki itu masih berada di posisinya...Namun kini mereka diam..mentapku dingin...namun tetap penuh kasih...Air mataku perlahan jatuh..menjadi sebuah butiran-butiran putus asa yang mengalir dengan sebuah kesedihan....pilu yang basah membuat penglihatanku kabur.
Aku terjebak. Diantara 8 pendar biru.. Aku tersesat diantara malam dan pagi. Malam yang pekat...Yang dingin..
Aku tidak tahu apa itu jalan keluar...yang aku tahu....aku tengah berada disini...diantara 8 pendar biru..
Aneh. Memuakkan.......aku kemudian terpejam......... Tuhan....dan semesta...... Apakah aku harus lari? Sementara salah satu diantara mereka telah berhasil menjemput ruh ku...... untuk berkelana?
mba stressful or unpleasant dreams?
ReplyDeleteboth aiz hahaha
ReplyDeletewow gokel
ReplyDelete