Aku membaca amarahmu.
Tegas arah matamu, menatap dunia gila yang kian hari kian menyiksa.
Rupa dalam layar, hati lantas bergetar, menulis seperti orang kerasukan setelah setahun lamanya mati rasa.
Perlahan, runtuh tembok baja yang kubangun susah payah.
Tapi, aku tak tahu caranya mendekat tanpa melukai harga diri.
Sakitku karena melepas, tapi jiwaku yang sesak akhirnya bisa bernafas,
sedikit demi sedikit,
waktu demi waktu.
Namun, aku rindu mengagumimu.
Rindu menebak-nebak jalan pikiranmu.
Sorot mata tajam, tapi teduh dalam waktu bersamaan.
Hilang adalah namamu.
Kini, hening menjadi satu-satunya yang tersisa di antara kita.
Aku biarkan dia menari seraya mencemooh,
dua kepala yang sama kerasnya,
dua hati yang mungkin sama rindunya,
dan rasa yang tertahan dari lidah yang kelu membiru.