Aku menamainya Kinandari.
Kaki kecilnya ringan melenggang. Erat kugenggam tangannya.
Sepasang bola mata coklat dengan binar sempurna. Merona pipinya.
Senyum itu kukenal. Tawa kecil yang terkenang.
Oh, Kinandari..
Mula-mula kita berjalan lalu sampai danau, kamu peluk Mama erat-erat.
Sampai awan biru mendadak runtuh dan menjelma jadi langit-langit.
--
Sejenak bersamamu rasanya seperti mimpi.
Kamu kekal, hidup selamanya dalam cerita.
--
Walau setelah kamu pulang, dunia tidak lagi sama.
Walau bertahan rasanya menyesakkan.
Walau harus hidup dalam 2 realita, sementara hati tidak pernah berhenti berduka.
Walau banyak waktu Mama yang dipakai untuk merangkai kalimat pamit, berkali-kali.
--
Tapi Tuhan tidak ingkar janji, sampai masanya kita pasti sama-sama lagi :-)
28 Juni 2023 - ∞
No comments:
Post a Comment