Monday, September 6, 2021

Sukacita/Dukacita

Senyumnya terkembang, wajahnya teduh seolah tak kenal badai, kehadirannya ibarat candu, begitu memikat. Dia perempuan yang selalu baik-baik saja, siapa sangka tiap detik waktunya, Ia pakai untuk merangkai kalimat pamit.

Tuhannya bilang jangan dulu, tapi satu dunia seolah memberi tanda; pergi saja, pergi saja. Lantas siapa lebih tahu? Pertanyaan sesakral itu saja dia enggan menjawab. Kelam hidupnya, tawa riangnya itu kedok saja...

Sejak kemarin, gaduh lagi hatinya. Menimbang-nimbang; Sukacita atau Dukacita?

 


Saturday, July 24, 2021

Leo

Dulu dunia seolah bungkam, ramai-ramai kompak bilang kamu adalah teka-teki. Persembunyianmu aman, terkunci rapat.

Sekarang, jejakmu samar terbaca. Sayangnya, meski sempat melabuh hati, sebenernya aku tak benar-benar mengenalmu. Jadi, mana aku tahu kamu tersiksa atau mulai terbiasa?

Satu hari di Bulan Juli, kamu mendadak tak lagi jadi misteri.
Satu hari di Bulan Juli, kurayakan kelahiranmu, kurayakan kehadiranmu, kurayakan kamu kembali.

Tanpa lilin dan sepotong kue. Hanya ada do’a dibisikkan dalam keheningan. Semoga hatimu menemukan damai, semoga kebencianmu pada dunia luruh. Semoga kamu tak pergi lagi. Semoga kamu bahagia.

Tutup mata, lalu lihat aku.
Selamat Ulang Tahun

Bali, 2307

Sunday, June 20, 2021

Pesan di Secarik Kertas

Kisah sudah usai.
Kita bukan orang yang sama.
Aku sadar betul, cinta sudah tak ada.
Namun rasa pasti tertinggal.
Luap emosi membekas, melekat pada memori.
Sebab itu, aku masih menyembunyikanmu, menyembunyikan mereka dalam bait puisiku.

Tapi jangan ramai, walau lanjut menulis, aku tak pernah kembali.
Rumahku sudah tetap, terkunci rapat..
Hatiku satu untuk Dia pula.
❤️

Tuesday, April 13, 2021

April

April bukan kisah baru, tapi tidak cukup lama untuk disimpan rapat-rapat dalam ruang gelap.
Benar, perempuan itu membicarakanmu.
Tenggelam dalam baris lagumu. Dia masih belajar melupakan. Dia lupa meluapkan.

Sebelum tidur, Perempuan itu masih mengulang percakapan di bawah pohon beringin. Kepalanya masih menyusun ratusan skenario seolah waktu bisa kembali lagi, dan Ia jadi lebih berani.
"Pilih aku."

Perjalanan penuh senandung. Air matanya sengaja ditahan, tawanya dilepas agar kamu larut.
Hingga akhirnya sampai. Puluhan kilometer ditempuh sepersekian detik. Hati perempuan itu hancur. Hatimu juga hancur. 

"Terlalu dekat. Aku bisa mati karena patah hati"
Kalimat itu hanya terdengar di pikiran perempuan itu.

Suaramu mengiba. Permintaanmu sederhana, seolah malam itu jadi waktu semua kisah berakhir.
Memang benar begitu.
Sayangnya, satu-satunya kenangan dari kisah itu telah tercerai-berai. Tenggelam dalam lautan sampah.

April. Kamu masuk dan selamanya hidup di situ.
Benar, bagi perempuan itu kamu selamanya, kamu tiada duanya.

Thursday, March 11, 2021

Rin.

Boleh jadi dunia sedang melawanmu.
Katamu, mereka membenci.
Katamu, banyak mulut memaki.
Darah dan keringatmu dianggap omong kosong.
Jika lampumu padam, mereka kompak bersorak.
Ruang jadi benderang jika kamu menyingkir.
Begitu rasanya?

Rin..
Banyak manusia mengeluhkan panas terik, tapi mereka pasti mati tanpa matahari.
Banyak manusia mengutuk hujan, tapi tanpa air semua niscaya usai.

Ingat satu hal; Mereka bukan seluruh tapi separuh..
Sebagian masih butuh binarmu.
Yang tandus setia mendamba hadirmu.

Jangan dulu pamit, Rin. Bertahan.

Thursday, February 25, 2021

Merah Marah

Aku tak pernah paham dengan orang yang mengagumi api.
Mendewakan kata berani.
Mendamba panasnya, berharap tersulut, terbakar, meledak.
Lantas jadi apa? Abu?

Merah Marah.
Bukan kepada kamu tapi kalian.
Bosan melawan seribu suara, lelah bangkit merangkul rasa. Sia-sia

Kalian bajingan. Tengik. Keji.

Aku tak pernah paham dengan orang yang mengagumi api, hingga malam ini.
Menahan diri itu sesak. Memahami terkadang merusak.

Aku menjaga ratusan hati. Aku menggariskan rentang waktu hingga hampir mati. Kalian berulah, masuk merusak mengamuk.

Kalian bajingan. Tengik. Keji.

Menjadi abu masih lebih baik daripada menjelma jadi manusia tanpa rasa malu.

Sesal hanya permulaan. Lainnya yang ikut bukan tanggung jawabku, lagi.