Senyumnya terkembang, wajahnya teduh seolah tak kenal badai, kehadirannya ibarat candu, begitu memikat. Dia perempuan yang selalu baik-baik saja, siapa sangka tiap detik waktunya, Ia pakai untuk merangkai kalimat pamit.
Tuhannya bilang jangan dulu, tapi satu dunia seolah memberi tanda; pergi saja, pergi saja. Lantas siapa lebih tahu? Pertanyaan sesakral itu saja dia enggan menjawab. Kelam hidupnya, tawa riangnya itu kedok saja...
Sejak kemarin, gaduh lagi hatinya. Menimbang-nimbang; Sukacita atau Dukacita?
No comments:
Post a Comment