April bukan kisah baru, tapi tidak cukup lama untuk disimpan rapat-rapat dalam ruang gelap.
Benar, perempuan itu membicarakanmu.
Tenggelam dalam baris lagumu. Dia masih belajar melupakan. Dia lupa meluapkan.
Benar, perempuan itu membicarakanmu.
Tenggelam dalam baris lagumu. Dia masih belajar melupakan. Dia lupa meluapkan.
Sebelum tidur, Perempuan itu masih mengulang percakapan di bawah pohon beringin. Kepalanya masih menyusun ratusan skenario seolah waktu bisa kembali lagi, dan Ia jadi lebih berani.
"Pilih aku."
Perjalanan penuh senandung. Air matanya sengaja ditahan, tawanya dilepas agar kamu larut.
Hingga akhirnya sampai. Puluhan kilometer ditempuh sepersekian detik. Hati perempuan itu hancur. Hatimu juga hancur.
"Terlalu dekat. Aku bisa mati karena patah hati"
Kalimat itu hanya terdengar di pikiran perempuan itu.
Suaramu mengiba. Permintaanmu sederhana, seolah malam itu jadi waktu semua kisah berakhir.
Memang benar begitu.
Sayangnya, satu-satunya kenangan dari kisah itu telah tercerai-berai. Tenggelam dalam lautan sampah.
April. Kamu masuk dan selamanya hidup di situ.
Benar, bagi perempuan itu kamu selamanya, kamu tiada duanya.
April. Kamu masuk dan selamanya hidup di situ.
Benar, bagi perempuan itu kamu selamanya, kamu tiada duanya.
No comments:
Post a Comment