Friday, March 14, 2014

Kinara Kinari

Percakapanku denganmu semalam itu semacam keheningan yang dibagi berdua. Dinikmati tanpa pernah berani bertanya 'sedang apa sebenarnya kami?' Kamu masih saja diam. Aku masih membual. dan Jogja tetap hujan.
Kamu kemudian mengajakku merapat, berbagi hal yang kali ini benar-benar kuanggap penting. Kamu meminangku lagi. Aku masih tak bergeming.
Apa yang kulagukan dalam kepalaku? Kamu masih santai menunggu, sementara aku sibuk menerka-nerka.
Lalu sampai Kota baru. 
Lagi-lagi ada hening yang membiasa. Leluasa ia menari diantara kita. Kamu lekas-lekas menyudahi makan siangmu. Kemudian menunggu. Sementara aku masih belum selesai menerka-nerka.
Sesampainya di Kinara Kinari, kamu meminangku lagi. Aku buka suara. Sedikit tapi bukan apa-apa. 
Aku melamun. Melihat hujan di sepanjang jalan. "Aku mau jadi pemahat", ujarku asal-asalan. Kamu tersenyum. Tetap diam. Aku masih saja bimbang kala itu. 
Butuh jeda sepanjang itu untuk sadar dimana aku sebenarnya. 
Sebenar-benarnya pengorbanan aku tangkap dari matamu. Jawaban dari tanya ku pada malam bising, pagi yang hening, siang yang ikut terik, senja yang redup. Aku lengkap.

Kamu menyertai langkahku yang rapuh. Menyudahi tangisku. Menambal sulam kapalku, kapalmu yang berkali-kali hendak karam. 
Aku mencintaimu dengan cara yang tak biasa.

Duhai Kinara Kinari.

Kamulah manusia setengah Dewa.








2 comments: