Semula..
Aku seperti kehilangan maksud, dibungkam rupa-rupa kebingungan.
terkoyak sendirian saja ditikam keentahan hidup, tidak terjaga di mimpi siapapun.
Aku terhimpit, sesak muak.
dibekap, dikejutkan, tetapi apa yang kuserukan? bukan apa-apa.
Aku mati rasa.
Seperti lama ku terbujur tanpa pernah beranjak. Lalu lumpuh saja.
Mendadak semua jadi serba asing, serba sinis.
Aku rindu kamu jiwaku, rindu rumah..
Rindu terjaga bersama-sama ketidakmengertian hingga langit malam dipulas tanda kemerahan
Sepanjang itu, sebahagia itu.
Kamu kembali, setelah melawan banyak hal di seribu malam kemarin.
Kini aku sejajar denganmu. Tidak mendahului atau tertinggal langkahmu.
Telah kuputuskan menyudahi semua perkara ini. Aku belum mau mati.
Aku sadar hidup akan terus datang dengan segala kengeriannya, siap mencekat siapapun yang tak siap.
Namun, aku kini sejajar denganmu. Tidak mendahului atau tertinggal langkahmu.
Tidak ada lagi takut.
Tidak ada lagi ritual minum jamu pahit.
Yang ada hanya kita yang selaras.
Tidak ada kalian juga. Tidak lagi.
Sebab kamulah permulaanku, dan sepatutnya tetap bersamaku hingga lembaran ini habis.
Aku seperti kehilangan maksud, dibungkam rupa-rupa kebingungan.
terkoyak sendirian saja ditikam keentahan hidup, tidak terjaga di mimpi siapapun.
Aku terhimpit, sesak muak.
dibekap, dikejutkan, tetapi apa yang kuserukan? bukan apa-apa.
Aku mati rasa.
Seperti lama ku terbujur tanpa pernah beranjak. Lalu lumpuh saja.
Mendadak semua jadi serba asing, serba sinis.
Aku rindu kamu jiwaku, rindu rumah..
Rindu terjaga bersama-sama ketidakmengertian hingga langit malam dipulas tanda kemerahan
Sepanjang itu, sebahagia itu.
Kamu kembali, setelah melawan banyak hal di seribu malam kemarin.
Kini aku sejajar denganmu. Tidak mendahului atau tertinggal langkahmu.
Telah kuputuskan menyudahi semua perkara ini. Aku belum mau mati.
Aku sadar hidup akan terus datang dengan segala kengeriannya, siap mencekat siapapun yang tak siap.
Namun, aku kini sejajar denganmu. Tidak mendahului atau tertinggal langkahmu.
Tidak ada lagi takut.
Tidak ada lagi ritual minum jamu pahit.
Yang ada hanya kita yang selaras.
Tidak ada kalian juga. Tidak lagi.
Sebab kamulah permulaanku, dan sepatutnya tetap bersamaku hingga lembaran ini habis.
"Aku berbicara dalam bahasa yang tak dimengerti.
menulis aksara yang tak terbaca siapapun,
tandaku tak lemah, aku tak hendak melontar tanya;
lantas aku harus bagaimana?,
pada kalian..."
No comments:
Post a Comment