Thursday, October 30, 2014

Aku Kramadangsa

"Ngeri,

Barangkali Kitab Kramadangsa kepunyaanku ini merah bagai darah."

-----

Sesak, makhluk serupa buta di kepalaku ini bergejolak luar biasa liar. Entah sejak kapan, ia enggan pergi. 
Aku kembali ke ritualku ; Jamu Pahit yang belakangan kuketahui punya nama.
(Meskipun kebutuhanku sesederhana segelas air putih, tetapi selalu jamu pahit.)

Kali ini bukan lagi perihal remeh-temeh Cinta yang sebelumnya aku ungkap tanpa malu, melainkan pergulatan batin yang tidak jelas bentuknya. Buta di kepalaku mendadak genap jadi punya empat dimensi. Rumit. Sulit. Pelik. Pahit. Manusia macam aku belum mampu naik hingga ke fase "menyimpulkan"

Rasa lelahku ini pasti akumulasi. Aku tahu betul. Aku sekarat selama itu, berkali-kali ditempa tanpa pernah dijanjikan akan jadi baja (paling tidak sekuat baja)
 Hampir tanpa alpa, berbagai macam ancaman datang tanpa sempat kuantisipasi. 
Aku muak. 
Lebih kepada sedih, yang sulit sekali kupahami. 

Mendung ini benar-benar tentangku. Bukan lagi menyangkut orang lain. 
Sejak dulu, sejak masanya pendar-pendar biru di padang cahaya yang kutulis sambil mabuk kue bulan itu, semestinya aku sadar. Semua....  Ini.....Hanya....Tentang....Aku.

Dimulai sejak aku dipaksa memahami konsep peka di sepertiga pertapaanku. Malam dengan bulan. Kabut gunung turun, menyelesaikan perkara lama.

Jika sebelumnya, aku pernah melimpahkan segala penderitaan ini pada satu hal, yaitu keberadaan orang lain yang begitu mengusik eksistensiku. 
Kini aku tahu, inilah batinku sendiri. Sakit yang kutanggung sejak kecil, akulah sumbernya. 


Kalau selama ini aku selalu sibuk cari ujungnya. Cari pangkal. Cari akhir.

Omong kosong. Aku tahu ini baru permulaan
Perihal siap mencekat yang tak siap, bukan lagi berputar melagu di kepala, tetapi menjalar kemana-mana.

Aku 1000 kali waspada.

Aku mulai dari kanan.

Cari aman.



-----


Tetapi meski dibalut bimbang. Aku yakin ini baik,bermanfaat.
Serta barangkali akan mulai kamu sadari ribut-ribut di kepalaku.
Ketidaktetapanku.
Semarang, 3010

Wednesday, June 18, 2014

Pagi-pagi

Aku menangisi ketiadaannya.
Namun sebentar kemudian, bahagia.
Karena sungguh aku tahu,
ia lekat pada 'kita'.

Tak lama, aku kembali muram.
Sebab tersesat diantara imajinasi lepasmu itu, sakit bukan main.
Seolah hidup terus, tapi tidak disadari.
Seolah melagu terus, tapi tidak didengar.
Seolah mati,
tapi tidak juga..

Ilusif.

Aku gagal memahami.




Friday, March 14, 2014

Kinara Kinari

Percakapanku denganmu semalam itu semacam keheningan yang dibagi berdua. Dinikmati tanpa pernah berani bertanya 'sedang apa sebenarnya kami?' Kamu masih saja diam. Aku masih membual. dan Jogja tetap hujan.
Kamu kemudian mengajakku merapat, berbagi hal yang kali ini benar-benar kuanggap penting. Kamu meminangku lagi. Aku masih tak bergeming.
Apa yang kulagukan dalam kepalaku? Kamu masih santai menunggu, sementara aku sibuk menerka-nerka.
Lalu sampai Kota baru. 
Lagi-lagi ada hening yang membiasa. Leluasa ia menari diantara kita. Kamu lekas-lekas menyudahi makan siangmu. Kemudian menunggu. Sementara aku masih belum selesai menerka-nerka.
Sesampainya di Kinara Kinari, kamu meminangku lagi. Aku buka suara. Sedikit tapi bukan apa-apa. 
Aku melamun. Melihat hujan di sepanjang jalan. "Aku mau jadi pemahat", ujarku asal-asalan. Kamu tersenyum. Tetap diam. Aku masih saja bimbang kala itu. 
Butuh jeda sepanjang itu untuk sadar dimana aku sebenarnya. 
Sebenar-benarnya pengorbanan aku tangkap dari matamu. Jawaban dari tanya ku pada malam bising, pagi yang hening, siang yang ikut terik, senja yang redup. Aku lengkap.

Kamu menyertai langkahku yang rapuh. Menyudahi tangisku. Menambal sulam kapalku, kapalmu yang berkali-kali hendak karam. 
Aku mencintaimu dengan cara yang tak biasa.

Duhai Kinara Kinari.

Kamulah manusia setengah Dewa.








Tuesday, February 18, 2014

Pulang

Semula..
Aku seperti kehilangan maksud, dibungkam rupa-rupa kebingungan.
terkoyak sendirian saja ditikam keentahan hidup, tidak terjaga di mimpi siapapun.
Aku terhimpit, sesak muak.
dibekap, dikejutkan, tetapi apa yang kuserukan? bukan apa-apa.
Aku mati rasa.

Seperti lama ku terbujur tanpa pernah beranjak. Lalu lumpuh saja.
Mendadak semua jadi serba asing, serba sinis.

Aku rindu kamu jiwaku, rindu rumah..
Rindu terjaga bersama-sama ketidakmengertian hingga langit malam dipulas tanda kemerahan
Sepanjang itu, sebahagia itu.

Kamu kembali, setelah melawan banyak hal di seribu malam kemarin.

Kini aku sejajar denganmu. Tidak mendahului atau tertinggal langkahmu.

Telah kuputuskan menyudahi semua perkara ini. Aku belum mau mati.
Aku sadar hidup akan terus datang dengan segala kengeriannya, siap mencekat siapapun yang tak siap.

Namun, aku kini sejajar denganmu. Tidak mendahului atau tertinggal langkahmu.

Tidak ada lagi takut.
Tidak ada lagi ritual minum jamu pahit.
Yang ada hanya kita yang selaras.

Tidak ada kalian juga. Tidak lagi.

Sebab kamulah permulaanku, dan sepatutnya tetap bersamaku hingga lembaran ini habis.



"Aku berbicara dalam bahasa yang tak dimengerti.
menulis aksara yang tak terbaca siapapun,
tandaku tak lemah, aku tak hendak melontar tanya;
lantas aku harus bagaimana?,
pada kalian..."