Aku menemukan kesulitan terlebih dahulu untuk memulai semua ini. Bertengkar aku dengan sebuah ketidakmengertian,ketidakpastian. Singkat kata,bingung.
Ketika lagi-lagi pagi aku menyaksikan sebuah transmisi,kemudian dalam terpaan angin aku bergumam,merangkai satu demi satu kalimat yang entah bagaimana caranya tidak pernah benar-benar buyar.
Kemudian malam ini,aku masih dengan senang hati terjaga. Terlebih dahulu menidurkan sayangku yang jauh itu. Melepas rindu hanya dengan isyarat singkat. Namun,tetap saling tahu....
Anggap saja aku sedang berbicara dengan mu,pagi itu. Bukan malam ini. Kau bersamaku pagi itu. Mendengarku....
Ketika pagi dimana Tuhan menyaksikan aku bangun memikul lelah. Gontai langkahku. Semalam itu dingin sekali.
Aku berjalan menghampiri cahaya yang keberadaannya tertutup... Tetapi tetap saja tembus.
Perlahan aku membiarkannya masuk. Bilang "selamat pagi" kepada wajah yang menggariskan sebuah kerinduan,rasa ingin pulang...
Jadi,ketika akirnya langkahku berlabuh,menepi,memojok,menyender.... Sebuah penglihatan menarik tertangkap oleh mataku. Gunung Ungaran dan hijaunya padang rumput yang semula kukira rawa.
Lalu ada kerbau. Satu saja.
Tak lama jadi dua,kemudian yang ketiga datang,tak lama jadi empat. Lima,enam,lalu yang datang sambil berlari pun membuat hitungan ku buyar. Dari satu yang bertransformasi itu, aku tertegun. Tak kusadari apapun sampai seekor kerbau dengan moncong paling kecil tanpa sungkan menaiki punggung salah satu kawanan nya.
Aku terdiam. Kemudian tangis yang seketika pecah membulatkan kesimpulan bahwa ini adalah sebuah elegi.
Kawanan kerbau yang kuduga satu keluarga. Sedang bermain sambil sarapan pagi bersama. Pasti,ada ayah,lalu ibu,kakak,dan adik. Intinya pagi ini mereka bersama. Dalam hawa dingin yang masih menjejak tak mau pergi. Tapi mereka bersama dan itu bukanlah hitungan sebuah persoalan.
Lalu........
Aku. Manusia yang kuduga kesepian. Sedang menatap kawanan kerbau yang sedang bermain. Kawanan yang kusimpulkan satu keluarga. Aku,manusia yang tak punya sarapan pagi.
Hawa dingin bekas kejayaan malam rasanya tak akan mau pergi dari lantai kamar atau langit-langit hati. Aku meratap. Aku sendirian sementara yang lain berkoloni.
Aku rindu rumah. Aku rindu apapun itu ritual pagi yang kami lakukan. Aku,ayah,ibu,dan adik perempuan paling cantikku...
Aku iri pada kerbau. Tapi itu pasti perbuatan yang kurang manusia.
Tanpa sebuah komunikasi verbal kusampaikan sebuah isyarat,sebuah telepati....bahwa aku sangat merindukan mereka... lebih dari apapun.
Aku yang ratusan kilometer jauhnya dari rumah,sering kali berhenti di persimpangan jalan. Memandang sekeliling dan bertanya, dimana aku?
Namun kutepis laranya dan bertransformasilah ia menjadi bahagia ketika aku mengingat bahwa mereka pun merindukan ku dan aku pasti pulang.
Aku menyudahi tangisan ku dan mengucap salam perpisahan pada kerbau.
Berterima kasih kepada Tuhan karena setidaknya aku punya hal untuk dirindukan,diingat,disyukuri. Keluarga
Aku bergegas mandi dan menghapus jejak-jejak air mata.
Bangkit lagi menjadi sosok kuat,walaupun sedikit dipaksakan Namun anggaplah itu sebuah sugesti baik.
Dari apa yang kunamai kerinduan. Aku berjuang dan suatu saat pasti akan pulang..
Ketika lagi-lagi pagi aku menyaksikan sebuah transmisi,kemudian dalam terpaan angin aku bergumam,merangkai satu demi satu kalimat yang entah bagaimana caranya tidak pernah benar-benar buyar.
Kemudian malam ini,aku masih dengan senang hati terjaga. Terlebih dahulu menidurkan sayangku yang jauh itu. Melepas rindu hanya dengan isyarat singkat. Namun,tetap saling tahu....
Anggap saja aku sedang berbicara dengan mu,pagi itu. Bukan malam ini. Kau bersamaku pagi itu. Mendengarku....
Ketika pagi dimana Tuhan menyaksikan aku bangun memikul lelah. Gontai langkahku. Semalam itu dingin sekali.
Aku berjalan menghampiri cahaya yang keberadaannya tertutup... Tetapi tetap saja tembus.
Perlahan aku membiarkannya masuk. Bilang "selamat pagi" kepada wajah yang menggariskan sebuah kerinduan,rasa ingin pulang...
Jadi,ketika akirnya langkahku berlabuh,menepi,memojok,menyender.... Sebuah penglihatan menarik tertangkap oleh mataku. Gunung Ungaran dan hijaunya padang rumput yang semula kukira rawa.
Lalu ada kerbau. Satu saja.
Tak lama jadi dua,kemudian yang ketiga datang,tak lama jadi empat. Lima,enam,lalu yang datang sambil berlari pun membuat hitungan ku buyar. Dari satu yang bertransformasi itu, aku tertegun. Tak kusadari apapun sampai seekor kerbau dengan moncong paling kecil tanpa sungkan menaiki punggung salah satu kawanan nya.
Aku terdiam. Kemudian tangis yang seketika pecah membulatkan kesimpulan bahwa ini adalah sebuah elegi.
Kawanan kerbau yang kuduga satu keluarga. Sedang bermain sambil sarapan pagi bersama. Pasti,ada ayah,lalu ibu,kakak,dan adik. Intinya pagi ini mereka bersama. Dalam hawa dingin yang masih menjejak tak mau pergi. Tapi mereka bersama dan itu bukanlah hitungan sebuah persoalan.
Lalu........
Aku. Manusia yang kuduga kesepian. Sedang menatap kawanan kerbau yang sedang bermain. Kawanan yang kusimpulkan satu keluarga. Aku,manusia yang tak punya sarapan pagi.
Hawa dingin bekas kejayaan malam rasanya tak akan mau pergi dari lantai kamar atau langit-langit hati. Aku meratap. Aku sendirian sementara yang lain berkoloni.
Aku rindu rumah. Aku rindu apapun itu ritual pagi yang kami lakukan. Aku,ayah,ibu,dan adik perempuan paling cantikku...
Aku iri pada kerbau. Tapi itu pasti perbuatan yang kurang manusia.
Tanpa sebuah komunikasi verbal kusampaikan sebuah isyarat,sebuah telepati....bahwa aku sangat merindukan mereka... lebih dari apapun.
Aku yang ratusan kilometer jauhnya dari rumah,sering kali berhenti di persimpangan jalan. Memandang sekeliling dan bertanya, dimana aku?
Namun kutepis laranya dan bertransformasilah ia menjadi bahagia ketika aku mengingat bahwa mereka pun merindukan ku dan aku pasti pulang.
Aku menyudahi tangisan ku dan mengucap salam perpisahan pada kerbau.
Berterima kasih kepada Tuhan karena setidaknya aku punya hal untuk dirindukan,diingat,disyukuri. Keluarga
Aku bergegas mandi dan menghapus jejak-jejak air mata.
Bangkit lagi menjadi sosok kuat,walaupun sedikit dipaksakan Namun anggaplah itu sebuah sugesti baik.
Dari apa yang kunamai kerinduan. Aku berjuang dan suatu saat pasti akan pulang..

