Wednesday, September 5, 2012

Pesan Dari Kerbau

Aku menemukan kesulitan terlebih dahulu untuk memulai semua ini. Bertengkar aku dengan sebuah ketidakmengertian,ketidakpastian. Singkat kata,bingung.
Ketika lagi-lagi pagi aku menyaksikan sebuah transmisi,kemudian dalam terpaan angin aku bergumam,merangkai satu demi satu kalimat yang entah bagaimana caranya tidak pernah benar-benar buyar.
Kemudian malam ini,aku masih dengan senang hati terjaga. Terlebih dahulu menidurkan sayangku yang jauh itu. Melepas rindu hanya dengan isyarat singkat. Namun,tetap saling tahu....

Anggap saja aku sedang berbicara dengan mu,pagi itu. Bukan malam ini. Kau bersamaku pagi itu. Mendengarku....

Ketika pagi dimana Tuhan menyaksikan aku bangun memikul lelah. Gontai langkahku. Semalam itu dingin sekali.

Aku berjalan menghampiri cahaya yang keberadaannya tertutup... Tetapi tetap saja tembus.
Perlahan aku membiarkannya masuk. Bilang "selamat pagi" kepada wajah yang menggariskan sebuah kerinduan,rasa ingin pulang...

Jadi,ketika akirnya langkahku berlabuh,menepi,memojok,menyender.... Sebuah penglihatan menarik tertangkap oleh mataku. Gunung Ungaran dan hijaunya padang rumput yang semula kukira rawa.

Lalu ada kerbau. Satu saja.
Tak lama jadi dua,kemudian yang ketiga datang,tak lama jadi empat. Lima,enam,lalu yang datang sambil berlari pun membuat hitungan ku buyar. Dari satu yang bertransformasi itu, aku tertegun. Tak kusadari apapun sampai seekor kerbau dengan moncong paling kecil tanpa sungkan menaiki punggung salah satu kawanan nya.

Aku terdiam. Kemudian tangis yang seketika pecah membulatkan kesimpulan bahwa ini adalah sebuah elegi.

Kawanan kerbau yang kuduga satu keluarga. Sedang bermain sambil sarapan pagi bersama. Pasti,ada ayah,lalu ibu,kakak,dan adik. Intinya pagi ini mereka bersama. Dalam hawa dingin yang masih menjejak tak mau pergi. Tapi mereka bersama dan itu bukanlah hitungan sebuah persoalan.
Lalu........
Aku. Manusia yang kuduga kesepian. Sedang menatap kawanan kerbau yang sedang bermain. Kawanan yang kusimpulkan satu keluarga. Aku,manusia yang tak punya sarapan pagi.
Hawa dingin bekas kejayaan malam rasanya tak akan mau pergi dari lantai kamar atau langit-langit hati. Aku meratap. Aku sendirian sementara yang lain berkoloni.

Aku rindu rumah. Aku rindu apapun itu ritual pagi yang kami lakukan. Aku,ayah,ibu,dan adik perempuan paling cantikku...
Aku iri pada kerbau. Tapi itu pasti perbuatan yang kurang manusia.

Tanpa sebuah komunikasi verbal kusampaikan sebuah isyarat,sebuah telepati....bahwa aku sangat merindukan mereka... lebih dari apapun.
Aku yang ratusan kilometer jauhnya dari rumah,sering kali berhenti di persimpangan jalan. Memandang sekeliling dan bertanya, dimana aku?
Namun kutepis laranya dan bertransformasilah ia menjadi bahagia ketika aku mengingat bahwa mereka pun merindukan ku dan aku pasti pulang.

Aku menyudahi tangisan ku dan mengucap salam perpisahan pada kerbau.
Berterima kasih kepada Tuhan karena setidaknya aku punya hal untuk dirindukan,diingat,disyukuri. Keluarga

Aku bergegas mandi dan menghapus jejak-jejak air mata.
Bangkit lagi menjadi sosok kuat,walaupun sedikit dipaksakan Namun anggaplah itu sebuah sugesti baik.

Dari apa yang kunamai kerinduan. Aku berjuang dan suatu saat pasti akan pulang..

Saturday, August 11, 2012

Senandung Avonturir

Kepada yang sedang berjuang,jauh merantau,sang avonturir muda!

Kami yang tanpa ragu bersenandung. Dalam keheningan malam,atau matahari terik pada siang hari.
Tak perduli sumbang atau yang lain bahkan tak mau dengar.
Kami petarung,kami petarung.

Lelah atau penat adalah kawan kami.
Yang kami tau menimba ilmu bukan mengeluh.

Dan kami pun tanpa ragu bersenandung. Dengan atau tanpa gitar.
Tak perduli sumbang atau yang lain bahkan tak mau dengar.
Kami petarung,kami petarung.

Melintasi pantai utara atau mungkin mencoba terjalnya tebing di selatan jawa.
Lebih jauh mungkin sampai dapat tenggelam dalam kerinduan pantai timur.
Mengancam nyawa....

Dan kami pun tanpa ragu bersenandung. Bersiul dan melongok keluar. Membiasakan deru.
Tak perduli sumbang atau yang lain bahkan tak mau dengar.
Kami petarung,kami petarung.

Angin,menjadi isyarat bahwa kami berlari begitu cepat.
Debu,mengisyaratkan kami untuk tidak menyerah terhadap guncangan semesta.
Mau angin menampar sekeras apapun,matahari menyengat hingga hangus lah kulit kami,kami tak perduli.

Sebab kami terus, tanpa ragu bersenandung untuk mengubur lara yang tak kuasa ditolak bahkan oleh makhluk se kuat apapun.
Tak perduli sumbang atau yang lain bahkan tak mau dengar.
Kami petarung,kami petarung.

'Kan kami kejar dimanapun jauhnya secercah harapan itu. Kami genggam dan melepas adalah suatu kemustahilan.
Tinggal jauh dari bapak dan ibu.
Harus rela mati dalam pilunya isakan adik tercinta.
Yang tak lagi berbagi ranjang atau cerita sepulang sekolah.
Sendirian.

Namun tak percayaku akan sia-sia.
Sebab kami hidup dalam doa.
Sebab kami bertarung di jalan Nya.
Sebab kami terus bersenandung.
Dan kami menolak keluh kesah.

Mau bagaimanapun matahari membakar kulit kami,namun semangat juang tak pernah jadi abu..

Kepada para petarung,teruslah bersenandung...

Saturday, July 14, 2012

Menunda Juli

Dan aku pun masih terjaga semalam ini duhai semesta!
Bunga yang pada akhirnya kusaksikan mekarnya dalam bayang-bayang kepekatan. Wijaya kusuma yang telah sekian lama tidur kemudian kembali bangun. Membuktikan keramahan Tuhan kepada setiap nyawa.
Dan aku pun akhirnya berbagi denganmu kawan badaiku.
Merombak habis susunan rencana ku selama hampir enam belas pekan. Melupakan skenario mengenai hidupku yang telah dengan berani-beraninya sendirian melintasi banyak badai.
Awalnya Juni,demi Tuhan Juni adalah waktunya aku memceritakan bagaimana maha dahsyat aroma kenakalanku menusuk batang hidung adam yang semestinya tak ku kecup kala itu.
Aku dan jiwaku yang mati suri, kembali nyala, mengalahkan redup yang selama ini berpijar (seperti) sendirian saja. Kami kembali,menjadi satu bagian yang tidak sepenuhnya utuh namun saling merapat memberi hati,mencintai dan tidak perduli!
Lalu aku pun menunda dulu Juli,sebab Juni lagi-lagi, harusnya kutorehkan semua ini. Sebab pada Juni,padang bungaku seharusnya merayakan sebuah hari jadi ke satu. Pertama kalinya aku datang menyentuh yang tandus,yang tak punya air,dan yang kutemui hanya terik. Selamat,kamu masih bertahan walaupun akulah tukang kebun yang kurang bertanggung jawab itu.
Kemudian pada Juni ada sebuah perjalanan panjang. Kini aku adalah gadis jawa hampir sepenuhnya,akan kutempuh pendidikan di Semarang. Kota yang mereka bilang punya gereja tua paling megah dan indah itu. Kota yang menurutku belum terjamah. Aku yang senja itu memandang bukit pribadiku sendirian saja. Menghirupnya dalam-dalam,hawa gunung yang begitu kental bak kopi milik ibu! hey! tidak kah kau rasakan semangat ku ini?
Perjalanan yang memberiku banyak sekali pelajaran. Aku melihat banyak hal dalam kereta bisnis yang kutumpangi. Pelajaran nomor satu adalah,jangan berhenti berharap,kedengaran klise,namun,kudapatkan nasi goreng itu sebab ku berharap diam-diam dalam rasa lapar,ku mengeluh pada lelaki tambunku hingga ia mengamini harapanku yaitu mengenai kedatangan seorang pramugara yang membawakanku sepiring nasi,yang juga di iya kan ibu ku.Kemudian Tuhan bilang,Ya! dan itu benar-benar terjadi.
Yang kedua dan mungkin yang terakhir yang kuingat,kulukis saja secara sederhana. Bahwa berhentilah menilai sesorang dari tampilan luar,sebenarnya tampilan luar adalah kewajiban seorang humani untuk menyajikan se apik mungkin,sehingga kesan baik muncul.Lantas mau lihat apa lagi dari seseorang kalau bukan "cover" nya? jawabannya tunggu dan saksikan. Rasakan bagaimana sebuah keluguan harus menampakan bagaimana wujud seseorang tanpa sebuah kepura-puraan.
Kutemui preman (awal pemikiran ku) duduk berseberangan dengan bangku bisnis ku. Kuamati celana blue jeans lusuhnya,jacket jeans yang kerahnya dipangkas habis,mata yang tampak begitu merah,kemudian apa lagi yang kulakukan selain bergidik ngeri? Kemudian datang seorang perempuan cantik yang dibalut kepalanya dengan jilbab.
Awalnya,aku benar-benar menduga bahwa ialah perempuan paling sial di muka bumi,perempuan yang mungkin kupanggil Fatimah duduk dengan lelaki gahar bernama Remon. Kuamati hingga kereta berjalan. Kemudian malam menyesap lebih dalam,lebih pekat,dan lebih berisik. Fatimah terlihat begitu mengantuk.
Tanpa kuduga,Remon atau lebih jelasnya lelaki yang kukira preman itu mengisyaratkan sesuatu pada Fatimah,isyarat yang tak dapat kudengar. Sepersekian menit kemudian posisinya sudah begini : Fatimah duduk diatas bangku,sendirian saja. Lantas kemana Remon? rupanya ia sedang memastikan seluruh permukaan lantai kereta yang akan ia tiduri tertutup oleh koran seadanya. Remon mempersilahkan Fatimah menikmati kenyamanan yang sudah sepantasnya wanita dapatkan. Kemudian ia mempersilahkan kenyamanan dengan caranya sendiri,yang ia terima dengan lapang dada. Caranya yang begitu sederhana. Aku tertegun. Mengutuk perbuatan suudzon ku pada Remon,baiklah kuganti namamu bang, menjadi Ali. Kuperhatikan keduanya hingga kami sampai di Semarang. Mereka terbangun dan berjabat tangan. Subhanallah...
Tak lelah bercerita,aku masih mau berbagi sedikit tentang kekecewaan ku pada dua hal. Yaitu pada sebuah ketidakpantasan perangai seorang teman dan perbuatan meniru lagi-lagi oleh seorang teman. Aku kecewa,dan sepertinya sebatas itulah harus kunamai perasaan ini. Sebab rasa sayangku pada kalian lebih besar dari rasa kecewa yang tidak seberapa.

Terakhir, tulisan malam atau mungkin pagi ku ini,kupersembahkan khusus untuk calon ibu dokter yang pasti akan segera kutemui.Aku mulai menyayangimu sebagai seorang sahabat.

Mengerti atau tidak,inilah yang paling ingin kuteriakkan!

"aku mau hidup seribu tahun lagi.."

Blur. Namun kurang lebih,seperti inilah nasi gorengnya!

Aku,ibu,dan kereta bisnis yang super........"

Wednesday, April 4, 2012

Sembunyi

dan jemariku gemetar detik demi detik ditikam sangsi. ditikam keentahan kaki terantuk di batu-batu nadi luka tersiram air garam
inikah kemustian hidup?
ah,aku tak bisa mengelak!

Toto ST Radik

Dan memang hanya kepada jiwa lah seharusnya semua keluh kesahku berpulang. Namun ku sembunyi. Ku sembunyikan dukaku namun kupandang dukamu. Dukamu yang mengukuhkan dukaku.
Dan tak kau ketahui dukaku lantas kau pandang saja bahagiaku. Aku bertanya kepada semesta apa bahagiaku sumber dukamu? atau berdukakah kamu,tatkala memandang dukaku?
Aku bertahan dalam persembunyianku. Tanpa pernah tahu mau dengan apa terjawab pertanyaanku,buatmu itu...
saat ini,sementara ini,aku masih saja melakukan kesenangan sendiri. Menangis pun masih sendiri. Teriak pun tak terdengar. Karena semua sembunyi..
Yang terlihat yang terkuak bukan aku.

Dan akupun sembunyi-sembunyi berharap. Lagi-lagi kau tak tahu. Malam syahdu atau senja redup. Kau tak tahu sebab aku sembunyi.
Duka lagi atau bahagia yang tak kuperkenankan satupun melihat sebabnya...

Satu kali lagi,dan yang terakhir,yang terlihat yang terkuak bukan aku.

 Kau tak tahu,sebab ku bersembunyi,bung!

Thursday, March 15, 2012

Fiksi - Perpustakaan

"Aku melihatnya berlari di sela-sela buku. Aku melihat bagaimana rambut hitam pekatnya mengibas liar. Aku memandangnya hingga tak kutemukan lagi sosoknya. Aku mencari. Aku menunggu. Merasakan detak jantung yang sama liarnya berdetak,liar yang melebihi kuda manapun. Kemudian ia ada. Ia berbalik,kembali berlari namun hanya setengah langkah,aku menangkap gerakan ekor matanya,ia juga..... Memandang ke arahku,menyadari keberadaan ku,dan terlihat kepayahan menyembunyikan rindu yang sepertinya tabu untuk kembali dibagi. Kejadian 5 menit yang mengganggu tidur-tidur malamku"

Rin melamun. Ia tak habis pikir akan mengalami kejadian yang tak pernah ia harapkan. Bukan bencana bukan pula kesialan. Hanya bertemu lelaki,namun lelaki yang salah.

Rin cepat-cepat mengubur persepsinya mengenai perpustakaan yang tak lagi aman. Baru pertama kalinya Rin dibuat galau oleh perpustakaan. Kegalauan Rin dalam perpustakaan hanya sebatas tak menemukan seri ke-10 dari Balada si Roy atau ketika ia harus memilih 2 diantara 10 buku yang ingin dipinjamnya.

Rin tak pernah mau mengungkit Dan. Namun perpustakaan membawa Rin kembali pada angan-angan tentang Dan. Dengan santai pintunya terbuka kemudian mempersilahkan Dan masuk ke dalamnya,itu sama saja  mempersilahkan Dan masuk lagi dalam hati Rin,hidup Rin.

Tak pernah ada lagi izin buat Dan untuk masuk dalam benak Rin juga mengganggu tidur-tidur malam Rin. Dan sudah pergi setahun lalu. Entah dengan argumentasi logis semacam apapun,"Aku mau mencari ibuku" Rin mengenang kata-kata Dan yang lantas pulang lagi tanpa kisah apapun,tanpa kesan apapun,seolah Rin hanya memori singkat yang tak pernah dianggap ada oleh nya. Rin tidak terima,tidak pernah pula siap untuk kedatangan Dan lagi,tak pernah sampai kapanpun,kalau seperti ini caranya.

*****

"Rin hanpir 3 hari kamu ngelamun terus,ada apa sih?"
"May aku mau tanya?"
"Lha,aku yang tanya kamu duluan Rin!"
"May kira-kira buat apa anak futsal masuk perpus?"
"Ha? maksud kamu Rin?"
"Memang mereka doyan baca juga May?"
"Rin aku nggak ngerti kamu ngomong apa?!"
"Lagian mereka punya markas sendiri kan May?"
May menutup mulut Rin. Dengan gusar ia memandang kedua mata coklat Rin. Tangan putihnya kontras sekali dengan kulit wajah Rin yang hitam namun manis. Sedari tadi,sahabatnya itu tak menjawab pertanyaan nya,ia malah bertanya tanpa henti,walalupun tak satu pun pertanyaan Rin yang ia jawab.
Rin diam saja,ia pasrah pada perlakuan May. Ia seperti menyadari sesuatu bahwa sedari tadi ia membuat May kesal. "Maaf May.." Rin nyengir.

*****
May boleh jadi heran. Sejak kapan Rin mulai bersajak lagi? Setau May,Rin itu sedang dirasuki kalau sedang membuat sajak,pasti ada hal yang mengganggu pikiran sahabatnya itu. Rin memang emosional dan ekspresif. Ia selalu menuangkan semua itu dalam tulisan. Rin selalu santai bila ditanya mengenai tulisan nya yang luar biasa hebat untuk May dan juga banyak orang. "Aku lagi dirasuki May,ngalir aja,itu mungkin bukan aku,kali aja" 
 
May membaca sajak-sajak Rin saat Rin pergi ke perpustakaan,sajaknya tertinggal atau entah sengaja ditinggalkan di meja.
Rin memang sembrono. Ia tak pernah memperhatikan nasib tulisannya. Rin bisa jadi penulis sajak paling tersohor bila ia berkenan menitipkan karya nya pada majalah atau tabloid. Sajak-sajak Rin kini berada dalam genggaman May. Ikut bersama May untuk pulang ke rumah,seperti biasa Rin selalu menolak jika diajak berkunjung ke rumah May.. Alasannya ramai dan banyak anak-anak,Rin kurang betah. May memang tinggal di panti asuhan bersama puluhan anak yang tak diberi kesempatan merasakan hangatnya belaian ibu. 

*****
 
"Baru pulang juga?" Sapa May sewaktu melihat temannya sesama anak panti yang hendak membuka pintu pagar.
Lelaki itu menoleh,tersenyum seadaanya kemudian mengangguk.
"Naik apa?" Mereka berjalan beriringan menuju rumah. "Angkot" jawabnya singkat.
"Gak latihan futsal?" Kemudian lelaki itu hanya menggeleng. Mereka berpisah di depan pintu,May menuju kamarnya di bawah sedangkan lelaki itu di atas.
May santai saja dengan perlakuan dingin lelaki itu. Ia memang seperti itu. Entah apa yang ada dalam benaknya. 

*****
"May,kamu bawa tulisan2 ku di meja ya?" Suara Rin terdengar bingung di ujung telepon. "Anu Rin emmm..." "Jawab aja May aku nggak marah kok cuma tanya aja" May menghela nafas panjang "Iya Rin,maaf ya habis kupikir kamu nggak bawa itu pulang dari pada hilang Rin,bagus" Rin kemudian diam sejenak. "Rin?" May memastikan apakah Rin masih berada disana... "May besok bawa ya sajak-sajakku" Rin tiba-tiba bersuara.
 May sebenarnya bingung,May keheranan,sejak kapan Rin peduli terhadap tulisan nya? namun May mengurungkan niatnya untuk bertanya,ia hanya mengiyakan perintah Rin padanya.

 
"May,makan!" Suara lelaki dari ujung telepon membuat Rin terhenyak. "May udah dulu ya,malam" tut.... Secepat kilat Rin menutup telpon. Langkahnya gontai menuju kamar,ia lemas,menyayangkan kejadian 10 detik yang lalu. Kenapa harus dengar sih?! Gerutu Rin dalam hati.
Rin meremas dadanya. Sesak. Seperti biasa. Entah bagaimana gambaran perasaan Rin saat ini. Ia sudah bolak-balik mengusap pipinya,mengusir bulir-bulir air mata dari kulit hitam manisnya. Rin benci harus menangis. Akhirnya ia memilih tidur dan melupakan kejadian barusan. 

sementara itu di panti asuhan.. 
Dan melamun. Ia menatap lembaran-lembaran sajak yang ditinggalkan May di meja makan. Memperhatikan inisial nama yang tertera di akhir baitnya "AA" dada nya mendadak sesak. Berulang kali ia menghela nafas panjang. Dan boleh jadi gamang saat ini. Kalau bukan lelaki Dan pasti menangis. Sajak-sajak yang dialamatkan padanya. Seutuhnya tanpa cacat. Begitu indah dan dalam. Dan mengulang sajak-sajak Rin. Dan melayangkan ingatan nya pada senin sore. Saat itu ia hendak mengambil tempat pensil nya yang tertinggal di perpustakaan saat pelajaran biologi. Kemudian kenapa harus Airin? Kenapa? Kenapa harus beradu pandang? Dan menyesali semua kejadian itu. Rin adalah mimpi terindah Ardan yang entah kini menghilang kemana. "Ini salahku." Dan mengutuk dirinya dalam hati. Malam ini,akan jadi malam terpanjang buat Dan. Ia akan memohon kepada Tuhan untuk mengembalikan mimpi terindahnya. 
 
Tok tok tok. May menggerutu,siapa yang mau main ke kamarnya malam-malam begini sih.dengan malas ia membuka pintu kamarnya. "Sia....pa.... Ardan? Ada apa?" May agak kaget.  "Kamu ninggalin ini di meja makan" ujar Dan sembari menyodorkan sajak-sajak milik Rin "astaga! Untung gak hilang,makasih ya Dan" Ardan mengangguk kemudian berlalu.


*****

 
Rin datang lebih awal menunggu May. Entah mengapa ia punya perasaan bersalah meninggalkan sajak-sajak miliknya kemarin. Entah sejak kapan menyimpan sajak jadi prioritas buat Rin,dulu ia tak peduli dengan keberadaan sajak-sajaknya. Baginya setelah menulis,urusan selesai. Mungkin sekarang semua berubah, karena Dan,,Rin jadi rela menjadi orang yang bahkan asing dimata nya sendiri. 

"Rin!" May setengah berlari menuju Rin,ia terlihat kepayahan mengatur nafas. "Buruan nih pegang! Didit sama Bayu lagi gelut,masih pagi Rin! Aku mau lihat,nih nih pegang" Rin menyahut lembaran kertas yang disodorkan May secara terburu-buru. Didit dan Bayu? Rin hanya tersenyum sinis sambil menggelengkan kepala. Baginya tak ada yang lebih ingin dilakukannya selain memastikan sajak-sajaknya utuh dan baik-baik saja.
Rin melihat lembar demi lembar tulisannya. Ia baca kembali sajak-sajak itu. Semua tentang Dan. Rin menahan perasaan nya,menghela nafas kemudian... Tiba-tiba dada Rin berdegup kencang,ada yang aneh dengan kumpulan kertas itu,ada pendatang baru rupanya. Sebuah kertas buku berwarna kuning gading,dan tulisan yang sudah pasti bukan milik Rin. Diambilnya kertas itu perlahan. Rin mulai membaca.
Rin terpekik. Nafasnya seperti tertahan. Air matanya tumpah. Rin menangis sesunggukan. Ia mencengkram erat rok abu-abunya. Rin menjerit. Ruangan kosong yang menjadi saksi bisu kepayahan Rin menahan luapan emosi yang pada akhirnya tumpah.
Tidak ada siapa-siapa. Hanya ada Rin dan kertas kuning gading yang bukan kepunyaan Rin.
Kini remaja Rin sedang berlari menuju perpustakaan. Menembus keramaian massa yang mengerubuti Didit dan Bayu. Memaksa lutut yang sebenarnya sudah luar biasa lemas untuk berlari. Menghiraukan teriakan May. Rin berlari lebih kencang dari apapun. Berlari menuju adam yang mengusik tidur malamnya. Adam yang mengharapkan mimpi indahnya kembali. Kini,mimpi indah itu sedang berada dalam perjalanan nya.

 
"Aku tau kau berada di dalam. Aku tau kau terusik saat aku berlari. Aku tau kau memperhatikanku. Aku tau bagaimana jantungmu melaju kencang tanpa seorang supir sebagai pengendali. Aku tau bagaimana susahnya menahan rindu yang tak bisa lagi dibagi. Aku tau bagaimana aku mengusik tidur malammu. Aku tau
Aku pun terusik melihat mu dengan keanggunan yang tak ikut tertutup oleh kerudungmu. Keanggunan yang justru makin terpancar. Aku pun lemas ,lututku hampir lepas saat berlari. Aku pun memperhatikanmu. Jantungku pun melaju sendiri Aku pun susah payah menahan rindu yang sangsi untuk dibagi lagi denganmu.
Rin,aku tunggu kamu di perpustakaan pagi ini. Rasanya,aku merindukan mimpi indahku di malam hari"

AA
Ardan Airin



Monday, March 5, 2012

Lilin

Aku baru saja kembali dari badaiku. Betapapun aku memaksakan untuk berbagi,tetap semua ini terlihat begitu rumit. Aku menghiraukan percakapan antara hati dan otak yang tidak disetujui otot-otot ku. Memaksa bergerak,berbagi,mengingat,mengulang.merekonstruksi,berbalik,kemudian akhirnya pasti menangis. Percaya atau tidak aku memang baru saja kembali dari badai. Kalian atau siapapun,pasti paham dengan refleksi kata "badai". Namun kali ini,sore ini,tiba-tiba saja,menuju komputer,perlahan dan sebuah pergolakan kecil dengan nyamuk. Aku,memilih menganalogikan kerumitan ku kali ini dengan Lilin..
Duduk bersama gelisahku. Kemudian sadar akan satu hal. Mengenai keberadaan ku sebagai lilin dalam ruangan gelap yang begitu pekat. Hingga lebih pekat dari kopi hitam manapun. Cahaya redupku yang tidak bisa lebih terang dari bintang.lampu pijar,atau obor. Aku hanya lilin yang memberi sebuah kemungkinan dalam cahaya redup yang kupancarkan. Kepada humani yang berada dalam kepekatan ini. yang menikmati cahayaku,yang tidur dalam malam yang kuberi penerangan. Ketika itu,kamu mengacuhkan ku. Hidup sendiri dengan kesenangan yang lain meski tetap ada aku. Aku lilin yang tak henti merangkai tentangmu. Dalam kekhawatiranku,kesedihan atau kecintaan ku terhadapmu. Terus berujar tanpa pernah sedikitpun lelah. Tak ada jejak mu dalam prosa milikku. Mungkin kau perhatian,namun mengapa harus disembunyikan? Kepadanya,sebuah kesempurnaan yang terlihat dalam ketidaksempurnaan pandangan. Ruangan ini cintanya. Namun,aku lelah berpijar,aku kemudian redup,sampai suatu ketika kamu sadari cahaya ku lenyap. Dalam kegelapan mu,barulah kamu mengukir,dalam keheningan malam,satu bait prosa tentangmu dan akulah penciptanya.
Aku selalu menulis tentangmu,berselisih dengan pikiranku dengan kamu sebagai sentra,terjaga dalam mimpi-mimpi malammu.
Sakit atau luka. Rindu atu perasaan benci. Betapapun begitu, cahaya ku telah mati.  Tidak lagi berpijar walau tak pernah begitu terang untukmu.
Kesunyianmu,kesunyianku juga

hidup untuk tidak menerangi malam pekatmu.
:)

Sunday, February 5, 2012

Bang!


Tak kusangka selimut rindu setebal ini,
tak mungkin tercekik sepi,
namun tercekik juga,
sorot matamu tajam mendelik,
namun mengapa ada mawar bersemayam di dalamnya?
mau pulang kapan,o abang!
ada gadis yang selalu saja tangis,selalu tangis,o abang!
aku rindu!
pulang!
pulang!
peluk garis pinggangku,
kemudian berikan cinderamata buat keningku,
kecup!
pulang,o abang!


Sunday, January 8, 2012

Kala Hujan Datang


"Aku menyembunyikan kecintaanku terhadap hujan. Ikut mengeluh bersamamu. Bukan kuincar pelangi di langit. Tapi pelangi pada senyum mu"