Kepada yang sedang berjuang,jauh merantau,sang avonturir muda!
Kami yang tanpa ragu bersenandung. Dalam keheningan malam,atau matahari terik pada siang hari.
Tak perduli sumbang atau yang lain bahkan tak mau dengar.
Kami petarung,kami petarung.
Lelah atau penat adalah kawan kami.
Yang kami tau menimba ilmu bukan mengeluh.
Dan kami pun tanpa ragu bersenandung. Dengan atau tanpa gitar.
Tak perduli sumbang atau yang lain bahkan tak mau dengar.
Kami petarung,kami petarung.
Melintasi pantai utara atau mungkin mencoba terjalnya tebing di selatan jawa.
Lebih jauh mungkin sampai dapat tenggelam dalam kerinduan pantai timur.
Mengancam nyawa....
Dan kami pun tanpa ragu bersenandung. Bersiul dan melongok keluar. Membiasakan deru.
Tak perduli sumbang atau yang lain bahkan tak mau dengar.
Kami petarung,kami petarung.
Angin,menjadi isyarat bahwa kami berlari begitu cepat.
Debu,mengisyaratkan kami untuk tidak menyerah terhadap guncangan semesta.
Mau angin menampar sekeras apapun,matahari menyengat hingga hangus lah kulit kami,kami tak perduli.
Sebab kami terus, tanpa ragu bersenandung untuk mengubur lara yang tak kuasa ditolak bahkan oleh makhluk se kuat apapun.
Tak perduli sumbang atau yang lain bahkan tak mau dengar.
Kami petarung,kami petarung.
'Kan kami kejar dimanapun jauhnya secercah harapan itu. Kami genggam dan melepas adalah suatu kemustahilan.
Tinggal jauh dari bapak dan ibu.
Harus rela mati dalam pilunya isakan adik tercinta.
Yang tak lagi berbagi ranjang atau cerita sepulang sekolah.
Sendirian.
Namun tak percayaku akan sia-sia.
Sebab kami hidup dalam doa.
Sebab kami bertarung di jalan Nya.
Sebab kami terus bersenandung.
Dan kami menolak keluh kesah.
Mau bagaimanapun matahari membakar kulit kami,namun semangat juang tak pernah jadi abu..
Kepada para petarung,teruslah bersenandung...
Kami yang tanpa ragu bersenandung. Dalam keheningan malam,atau matahari terik pada siang hari.
Tak perduli sumbang atau yang lain bahkan tak mau dengar.
Kami petarung,kami petarung.
Lelah atau penat adalah kawan kami.
Yang kami tau menimba ilmu bukan mengeluh.
Dan kami pun tanpa ragu bersenandung. Dengan atau tanpa gitar.
Tak perduli sumbang atau yang lain bahkan tak mau dengar.
Kami petarung,kami petarung.
Melintasi pantai utara atau mungkin mencoba terjalnya tebing di selatan jawa.
Lebih jauh mungkin sampai dapat tenggelam dalam kerinduan pantai timur.
Mengancam nyawa....
Dan kami pun tanpa ragu bersenandung. Bersiul dan melongok keluar. Membiasakan deru.
Tak perduli sumbang atau yang lain bahkan tak mau dengar.
Kami petarung,kami petarung.
Angin,menjadi isyarat bahwa kami berlari begitu cepat.
Debu,mengisyaratkan kami untuk tidak menyerah terhadap guncangan semesta.
Mau angin menampar sekeras apapun,matahari menyengat hingga hangus lah kulit kami,kami tak perduli.
Sebab kami terus, tanpa ragu bersenandung untuk mengubur lara yang tak kuasa ditolak bahkan oleh makhluk se kuat apapun.
Tak perduli sumbang atau yang lain bahkan tak mau dengar.
Kami petarung,kami petarung.
'Kan kami kejar dimanapun jauhnya secercah harapan itu. Kami genggam dan melepas adalah suatu kemustahilan.
Tinggal jauh dari bapak dan ibu.
Harus rela mati dalam pilunya isakan adik tercinta.
Yang tak lagi berbagi ranjang atau cerita sepulang sekolah.
Sendirian.
Namun tak percayaku akan sia-sia.
Sebab kami hidup dalam doa.
Sebab kami bertarung di jalan Nya.
Sebab kami terus bersenandung.
Dan kami menolak keluh kesah.
Mau bagaimanapun matahari membakar kulit kami,namun semangat juang tak pernah jadi abu..
Kepada para petarung,teruslah bersenandung...
No comments:
Post a Comment