Tuesday, October 27, 2020

Senin Malam

"Hidup memberi yang tak diminta tetapi tak memberi yang diminta" 
Kalimat itu terucap hampir tengah malam, dalam percakapan dua sahabat yang saling rindu. 

Sebelum mimpi biru muncul pada detik terakhir, malam itu cukup dingin dan gelap. Tangisan mengawali untuk kemudian menggiring waktu. Menghapus rona sepenuhnya. Semestanya lagi-lagi penuh lelucon, kali ini tanpa tawa justru banjir air mata. 

Ia duduk berjarak. Mabuk lagu lama dan terkepung asap tembakau. Sepasang bola mata kuning mengamati dari dekat, mau bicara tapi tak punya kendali. Namun entah mengapa, keheningan itu justru menghadirkan cinta tak bersyarat. 

Ia luluh lantak. Diam... dan lebih hancur lagi. Teriak! Justru jadi damai. Selepas kehilangan semuanya, ia akhirnya merasa cukup. 

"Kalau semesta belum ramah. Jangan dulu patah, mundur menyerah" Kalimat itu hampir jadi penutup dalam sebuah percakapan tanpa lawan bicara. 

"Sudahi saja. Mau apa? 
Kita manusia hingga bukan lagi. 
Sabar. 
Bernafaslah." 

Begitu saja dan Ia lalu lelap.

No comments:

Post a Comment