Tuesday, October 27, 2020

Senin Malam

"Hidup memberi yang tak diminta tetapi tak memberi yang diminta" 
Kalimat itu terucap hampir tengah malam, dalam percakapan dua sahabat yang saling rindu. 

Sebelum mimpi biru muncul pada detik terakhir, malam itu cukup dingin dan gelap. Tangisan mengawali untuk kemudian menggiring waktu. Menghapus rona sepenuhnya. Semestanya lagi-lagi penuh lelucon, kali ini tanpa tawa justru banjir air mata. 

Ia duduk berjarak. Mabuk lagu lama dan terkepung asap tembakau. Sepasang bola mata kuning mengamati dari dekat, mau bicara tapi tak punya kendali. Namun entah mengapa, keheningan itu justru menghadirkan cinta tak bersyarat. 

Ia luluh lantak. Diam... dan lebih hancur lagi. Teriak! Justru jadi damai. Selepas kehilangan semuanya, ia akhirnya merasa cukup. 

"Kalau semesta belum ramah. Jangan dulu patah, mundur menyerah" Kalimat itu hampir jadi penutup dalam sebuah percakapan tanpa lawan bicara. 

"Sudahi saja. Mau apa? 
Kita manusia hingga bukan lagi. 
Sabar. 
Bernafaslah." 

Begitu saja dan Ia lalu lelap.

Friday, February 21, 2020

Malaikat

Semua orang bilang Ia malaikat. Dulu...

Kini pendarnya meredup. Senyum manis itu perlahan hilang. Sayapnya telah patah.

Tanpa bisa menolak, Ia jatuh seperti kehilangan kendali. “Atau.. selama ini aku memang tak pernah tahu bagaimana caranya terbang?” Ujarnya dengan terisak dalam perenungan.

Harap dan lara. Hatinya gaduh bukan main. Kehilangan dirinya sendiri. Kehilangan arah. Kehilangan guna.

Surga tak pernah menjadi rumahnya. Bumi hanya pertapaan sementara. Jiwa yang mendambanya satu per satu mundur. Mereka tak lagi punya alasan untuk memuji.

Sekarang raganya sembunyi. Bungkam lisannya. Jejak rona hilang tersapu deras air mata.

“Aku tak pernah menjadi malaikat” katanya sambil lalu. Entah langkahnya menuju kemana.




(Untuk Airin,
jangan dulu menyerah. Kamu masih punya Dia dan Aku.)

Friday, January 24, 2020

Rumah Ketiga

Ratusan hari lalu, angin diam-diam merayu layarnya. Melabuhkannya di Rumah Ketiga. Meski sana sini semua serupa, tapi Dia tetap canggung menyapa.

Di sana, nafasnya hampir habis karena tenggelam dalam air mata, namun mantra pagi petang jadi tak pernah alpa diucap. Isinya tak berubah; kiranya Engkau berkenan menyempurnakan kesabaran.

Dia pernah tersesat dalam rimbun teka teki, putus asa menelan jamu pahit, hingga merah penuh amarah melawan seribu suara.

Tapi, syukur pasti menjelma jadi kesimpulan terakhir. Membuat langkah yang mundur teratur itu perlahan maju tanpa ragu.

Dia belajar memahami mau Semesta. Dari ramai suara tak biasa hingga keheningan yang penuh candu. Genap teriring dalam langkah perjalanan tak berujung.

Sekarang,

Tertutup rapat telinganya jika ada yang bilang ini belum punya nilai. Katanya lantang; Tidak ada yang tahu, walau masih badai kecil-kecil, pelajaran terpetik bisa penuh satu gelora!

Tugasnya kini sederhana, bawa masuk yang buat bahagia, usir yang usil suka buat lara. Ada harap menyelinap tertuju untuk rumah barunya; jadilah rumah yang teduh, riuh sedikit asal tak saling melukai. 

(Depok, 2420)