Kawan, barangkali ketika pertama kali kau terima surat darinya, ada harap yang diam-diam hadir, mendambakan kisah cinta yang bisa kau beri irama.
Tetapi nyatanya kau tak cukup genap memahami perempuan itu, pun sang lelaki malang, seperti melukis diatas air, sia-sia.
Katanya wangi, tidak! kuberitahu. Dia keruh. Perempuan itu punya masa lalu kelam.
Ia membungkam seribu lelaki. Membuat mereka malang. Tercerai berai. Terbengkalai, jadi debu.
Kini ia kesepian. Mencipta dunianya sendiri di sisi jendela. Hidup dalam kesenangan yang tak pernah terlihat. Berlari sekencang-kencangnya tanpa punya maksud. Biar menjadi rahasia, katanya.
Ia terus menangis untuk menyembuhkan.
Ia terus menangis untuk menyembuhkan.
Ia terus menangis untuk menyembuhkan.
Kawan, jangan buang waktu untuk sedetikpun memikirkannya. Dunianya telah lama mati dan yang kau lihat bukan apa-apa.
Tetapi nyatanya kau tak cukup genap memahami perempuan itu, pun sang lelaki malang, seperti melukis diatas air, sia-sia.
Katanya wangi, tidak! kuberitahu. Dia keruh. Perempuan itu punya masa lalu kelam.
Ia membungkam seribu lelaki. Membuat mereka malang. Tercerai berai. Terbengkalai, jadi debu.
Kini ia kesepian. Mencipta dunianya sendiri di sisi jendela. Hidup dalam kesenangan yang tak pernah terlihat. Berlari sekencang-kencangnya tanpa punya maksud. Biar menjadi rahasia, katanya.
Ia terus menangis untuk menyembuhkan.
Ia terus menangis untuk menyembuhkan.
Ia terus menangis untuk menyembuhkan.
Kawan, jangan buang waktu untuk sedetikpun memikirkannya. Dunianya telah lama mati dan yang kau lihat bukan apa-apa.
No comments:
Post a Comment