Tuesday, September 6, 2016

Untukmu, teman.

Aku tahu Kamu hidup.
Kamu hanya menolak menyertakanku.


Dalam duniamu perjalanan dan menjejak bukan persoalan apa-apa. Hanya nafas dan keringat seperti halnya seribu malam kemarin. Kamu menjalani hidupmu lagi kemudian.
Dalam duniaku, getar sehalus apapun mampu mengguncangkan segala yang sudah lalu. Membangun batas bagi mereka untuk menyentuh bahkan hanya sampai kemungkinan. Hidupku berhenti, namun dunia masih sama. Tak perduli.

Aku berusaha memantaskan kalimatku, puisiku untuk menggambarkanmu. Usahamu terhadap mereka yang selalu buram dalam duniaku. Selalu rahasiamu.
Tapi aku nyatanya tidak pernah sampai menggapaimu.

Malam itu aku habiskan mencarimu dalam lautan penari. Yang kulihat hanya dua kapal. Dan badai dalam samudra.
Kamu.... Tak perlu meragukanku. Aku tak akan belajar bertahan, mencari daratan atau pertolongan. Aku berusaha ikhlas tenggelam demi lengkap bersamamu.
Aku tak pernah menyerah dan kamu tak pernah terlambat.

Jika ini bukan apa-apa. Dan mimpi-mimpi yang mengusik tidur malamku hanya kabut yang sebentar akan pergi. Hilang lagi. Aku akan habiskan sisa hidupku untuk membenarkan perkataan mereka, Makhluk-makhluk kiriman Tuhan yang bilang manusia memang dirancang untuk patah hati. Untuk jatuh dan hancur. Untuk minum jamu pahit hingga mati.

Rentang waktu ini masih terlalu singkat  untuk mengeluh. Tangisku belum punya nilai apa-apa. Semua belum genap, penyiksaan bagi batinku baru saja dimulai. Maaf karena cinta ini membuatku tergesa-gesa. Sakitku tak memiliki penawar.
Kehilangan sebelum sempat benar-benar memilikkimu.


Tapi jangan pernah lupa, aku manusia.







Sunday, May 22, 2016

Surat untuk Teman Lama

Kita terdampar. Kalau ternyata ada orang dateng dengan perahu yang hanya muat untuk dua orang, Saya nggak mau ngancurin perahu—satu-satunya penyelamat—dan buat kita jadi tiga orang yang terdampar. Saya harus paksa kamu naik dengan orang yang paham cara berlayar." - Kalimatmu yang membuat kita sama-sama pergi.

Dalam rentang waktu yang sepertinya kamu lukiskan tanpa sadar, aku nyatanya bukan apa-apa. Dulu, aku percaya kita tak berantara, padahal sebaliknya, semakin ku sadar, semakin jelas, rimbun rahasiamu bukan untuk kujelajah. Harap menyapulenyapkan semua logika, dua jiwa rapuh yang saling jaga hanya omong kosong. Kenangan benar-benar tenggelam di laut lepas, bukan begitu? 
Bagimu, aku hanya sisi lain. Hatimu selalu tahu mana rumah yang sebenarnya.
Aku manusia, kamu teman lama.
Kabarmu kucari, kupendam, kulari. 

Thursday, February 25, 2016

Teman Lama

Rahasiamu, selamanya jadi candu buatku.
Bukan masalah jika tak berkenan membagi. 
Aku punya seribu jam untuk mengajakmu bercengkrama. 
Pelan-pelan menggali, hingga kamu tak sungkan.

Aku lambat laun jadi rutinitasmu.
Percayalah.

Friday, February 19, 2016

Ia Malang

Kawan, barangkali ketika pertama kali kau terima surat darinya, ada harap yang diam-diam hadir, mendambakan kisah cinta yang bisa kau beri irama.
Tetapi nyatanya kau tak cukup genap memahami perempuan itu, pun sang lelaki malang, seperti melukis diatas air, sia-sia.
Katanya wangi, tidak! kuberitahu. Dia keruh. Perempuan itu punya masa lalu kelam.

Ia membungkam seribu lelaki. Membuat mereka malang. Tercerai berai. Terbengkalai, jadi debu.


Kini ia kesepian. Mencipta dunianya sendiri di sisi jendela. Hidup dalam kesenangan yang tak pernah terlihat. Berlari sekencang-kencangnya tanpa punya maksud. Biar menjadi rahasia, katanya.

Ia terus menangis untuk menyembuhkan.
Ia terus menangis untuk menyembuhkan.
Ia terus menangis untuk menyembuhkan.

Kawan, jangan buang waktu untuk sedetikpun memikirkannya. Dunianya telah lama mati dan yang kau lihat bukan apa-apa.