Aku baru saja kembali dari badaiku. Betapapun aku memaksakan untuk berbagi,tetap semua ini terlihat begitu rumit. Aku menghiraukan percakapan antara hati dan otak yang tidak disetujui otot-otot ku. Memaksa bergerak,berbagi,mengingat,mengulang.merekonstruksi,berbalik,kemudian akhirnya pasti menangis. Percaya atau tidak aku memang baru saja kembali dari badai. Kalian atau siapapun,pasti paham dengan refleksi kata "badai". Namun kali ini,sore ini,tiba-tiba saja,menuju komputer,perlahan dan sebuah pergolakan kecil dengan nyamuk. Aku,memilih menganalogikan kerumitan ku kali ini dengan Lilin..
Duduk bersama gelisahku. Kemudian sadar akan satu hal. Mengenai keberadaan ku sebagai lilin dalam ruangan gelap yang begitu pekat. Hingga lebih pekat dari kopi hitam manapun. Cahaya redupku yang tidak bisa lebih terang dari bintang.lampu pijar,atau obor. Aku hanya lilin yang memberi sebuah kemungkinan dalam cahaya redup yang kupancarkan. Kepada humani yang berada dalam kepekatan ini. yang menikmati cahayaku,yang tidur dalam malam yang kuberi penerangan. Ketika itu,kamu mengacuhkan ku. Hidup sendiri dengan kesenangan yang lain meski tetap ada aku. Aku lilin yang tak henti merangkai tentangmu. Dalam kekhawatiranku,kesedihan atau kecintaan ku terhadapmu. Terus berujar tanpa pernah sedikitpun lelah. Tak ada jejak mu dalam prosa milikku. Mungkin kau perhatian,namun mengapa harus disembunyikan? Kepadanya,sebuah kesempurnaan yang terlihat dalam ketidaksempurnaan pandangan. Ruangan ini cintanya. Namun,aku lelah berpijar,aku kemudian redup,sampai suatu ketika kamu sadari cahaya ku lenyap. Dalam kegelapan mu,barulah kamu mengukir,dalam keheningan malam,satu bait prosa tentangmu dan akulah penciptanya.
Aku selalu menulis tentangmu,berselisih dengan pikiranku dengan kamu sebagai sentra,terjaga dalam mimpi-mimpi malammu.
Sakit atau luka. Rindu atu perasaan benci. Betapapun begitu, cahaya ku telah mati. Tidak lagi berpijar walau tak pernah begitu terang untukmu.
Kesunyianmu,kesunyianku juga
hidup untuk tidak menerangi malam pekatmu.
:)
Duduk bersama gelisahku. Kemudian sadar akan satu hal. Mengenai keberadaan ku sebagai lilin dalam ruangan gelap yang begitu pekat. Hingga lebih pekat dari kopi hitam manapun. Cahaya redupku yang tidak bisa lebih terang dari bintang.lampu pijar,atau obor. Aku hanya lilin yang memberi sebuah kemungkinan dalam cahaya redup yang kupancarkan. Kepada humani yang berada dalam kepekatan ini. yang menikmati cahayaku,yang tidur dalam malam yang kuberi penerangan. Ketika itu,kamu mengacuhkan ku. Hidup sendiri dengan kesenangan yang lain meski tetap ada aku. Aku lilin yang tak henti merangkai tentangmu. Dalam kekhawatiranku,kesedihan atau kecintaan ku terhadapmu. Terus berujar tanpa pernah sedikitpun lelah. Tak ada jejak mu dalam prosa milikku. Mungkin kau perhatian,namun mengapa harus disembunyikan? Kepadanya,sebuah kesempurnaan yang terlihat dalam ketidaksempurnaan pandangan. Ruangan ini cintanya. Namun,aku lelah berpijar,aku kemudian redup,sampai suatu ketika kamu sadari cahaya ku lenyap. Dalam kegelapan mu,barulah kamu mengukir,dalam keheningan malam,satu bait prosa tentangmu dan akulah penciptanya.
Aku selalu menulis tentangmu,berselisih dengan pikiranku dengan kamu sebagai sentra,terjaga dalam mimpi-mimpi malammu.
Sakit atau luka. Rindu atu perasaan benci. Betapapun begitu, cahaya ku telah mati. Tidak lagi berpijar walau tak pernah begitu terang untukmu.
Kesunyianmu,kesunyianku juga
hidup untuk tidak menerangi malam pekatmu.
:)
This comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDelete