Monday, September 19, 2011

Kepada Ruh Adam

Kepada ruh adam yang kuibaratkan dalam sebuah pendar.
Nama yang berselimut pendar biru.
Kepada ruh adam yang saat ini tak segan menggoda Adinda dalam masa penantiannya.
Penantian mengenai suatu pinangan yang menjadi sebuah rahasia publik.
Kepada......para...ruh adam yang mungkin saat ini sedang panas daun telinga nya.
Aku hanya mau bercerita. Aku hanya mau berbagi suatu perasaan yang mengusik tidur-tidur malamku.
Jadi begini,aku yang saat ini senang menjadi perempuan-perempuan kalian. Tidur dalam dekapan hangat kalian. Bukan karena aku mau melahap nasib-nasib kalian. Tetapi ini karena seorang Adinda benci menebar pahit.
Jadi begini... Aku telah melabuhkan nasib-nasib rumitku kepada adam yang terkesan kurang manusia. Terhadap adam yang entah ruh romantisme nya kemana. Terhadap adam yang pulang dalam perasaan tenang. Ia pulang sehabis membolak-balikan perasaan seorang wanita jawi yang makan anggur asam tadi pagi. 
Jadi begini,saat ini kalian memang sangat terbuai. Aku adalah apa yang kalian sebut sebuah sentra.
Aku hanya takut. Aku hanya mencemaskan perasaan tersembunyi ini...

Bagaimana bila....
suatu saat aku kelak akan sendirian...

Sunday, September 4, 2011

Gelap ( Bagian Terakhir )

Aku pulang. Dalam sebuah kelegaan batin. Dalam lelah yang tak tertanding. Aku pulang. Aku tiba hari ini pukul delapan waktu Indonesia bagian barat. Satu kata..... Alhamdulillahirabbil'alamiin....
Aku wanita yang masih bisa menulis sore ini. Aku masih ada dalam akhir rangkaian perjalanan panjang ini. Aku masih pegang andil sebagai asisten sopir malam tadi. Aku masih bangun pagi-pagi,subuh tadi...... Dan sore ini,aku masih ada untuk kemudian menyelesaikan ceritaku. Bertajuk gelap aku memulai menulis sekitar 1 pekan yang lalu. Aku tanggalkan semua kelegaan,aku palsukan kesenangan. Memberi tempat kepada yang gelap masuk. Kepada satu firasat panjang berjalan-jalan dalam Aku. Aku memperhatikan bagaimana yang gelap itu menjelajah. Mengusik tidur-tidur malam ku yang tidak panjang. Membuat siang hariku lebih panas. Aku tak mengeluh. Aku menikmatinya. Aku memperhatikan. Membiarkan mereka main-main. Melihat.....apa sebenarnya yang firasat itu maksud

Satu pelajaran kupetik... Kekhawatiran datang untuk suatu alasan....Aku hanya perlu bertindak waspada dan berdo'a.. Karena setiap aku meminta.. Aku yakin Ia Maha Mendengar.. Aku yakin Allah bersamaku...

Klise.... namun kenyataan berkata seperti itu...

Selamat sore