Semua orang bilang Ia malaikat. Dulu...
Kini pendarnya meredup. Senyum manis itu perlahan hilang. Sayapnya telah patah.
Tanpa bisa menolak, Ia jatuh seperti kehilangan kendali. “Atau.. selama ini aku memang tak pernah tahu bagaimana caranya terbang?” Ujarnya dengan terisak dalam perenungan.
Harap dan lara. Hatinya gaduh bukan main. Kehilangan dirinya sendiri. Kehilangan arah. Kehilangan guna.
Surga tak pernah menjadi rumahnya. Bumi hanya pertapaan sementara. Jiwa yang mendambanya satu per satu mundur. Mereka tak lagi punya alasan untuk memuji.
Sekarang raganya sembunyi. Bungkam lisannya. Jejak rona hilang tersapu deras air mata.
“Aku tak pernah menjadi malaikat” katanya sambil lalu. Entah langkahnya menuju kemana.
(Untuk Airin,
jangan dulu menyerah. Kamu masih punya Dia dan Aku.)
Kini pendarnya meredup. Senyum manis itu perlahan hilang. Sayapnya telah patah.
Tanpa bisa menolak, Ia jatuh seperti kehilangan kendali. “Atau.. selama ini aku memang tak pernah tahu bagaimana caranya terbang?” Ujarnya dengan terisak dalam perenungan.
Harap dan lara. Hatinya gaduh bukan main. Kehilangan dirinya sendiri. Kehilangan arah. Kehilangan guna.
Surga tak pernah menjadi rumahnya. Bumi hanya pertapaan sementara. Jiwa yang mendambanya satu per satu mundur. Mereka tak lagi punya alasan untuk memuji.
Sekarang raganya sembunyi. Bungkam lisannya. Jejak rona hilang tersapu deras air mata.
“Aku tak pernah menjadi malaikat” katanya sambil lalu. Entah langkahnya menuju kemana.
(Untuk Airin,
jangan dulu menyerah. Kamu masih punya Dia dan Aku.)