Friday, January 24, 2020

Rumah Ketiga

Ratusan hari lalu, angin diam-diam merayu layarnya. Melabuhkannya di Rumah Ketiga. Meski sana sini semua serupa, tapi Dia tetap canggung menyapa.

Di sana, nafasnya hampir habis karena tenggelam dalam air mata, namun mantra pagi petang jadi tak pernah alpa diucap. Isinya tak berubah; kiranya Engkau berkenan menyempurnakan kesabaran.

Dia pernah tersesat dalam rimbun teka teki, putus asa menelan jamu pahit, hingga merah penuh amarah melawan seribu suara.

Tapi, syukur pasti menjelma jadi kesimpulan terakhir. Membuat langkah yang mundur teratur itu perlahan maju tanpa ragu.

Dia belajar memahami mau Semesta. Dari ramai suara tak biasa hingga keheningan yang penuh candu. Genap teriring dalam langkah perjalanan tak berujung.

Sekarang,

Tertutup rapat telinganya jika ada yang bilang ini belum punya nilai. Katanya lantang; Tidak ada yang tahu, walau masih badai kecil-kecil, pelajaran terpetik bisa penuh satu gelora!

Tugasnya kini sederhana, bawa masuk yang buat bahagia, usir yang usil suka buat lara. Ada harap menyelinap tertuju untuk rumah barunya; jadilah rumah yang teduh, riuh sedikit asal tak saling melukai. 

(Depok, 2420)