Thursday, April 4, 2019

Surat untuk Teman Lama

“Kita terdampar. Kalau ternyata ada orang datang dengan perahu yang hanya muat untuk dua orang, Saya nggak mau ngancurin perahu—satu-satunya penyelamat—dan buat kita jadi tiga orang yang terdampar. Saya harus paksa kamu naik dengan orang yang paham cara berlayar." - Kalimatmu yang membuat kita sama-sama pergi.


Dalam rentang waktu yang sepertinya kamu lukiskan tanpa sadar, aku nyatanya bukan apa-apa.  Dulu, aku percaya kita tak berantara, padahal sebaliknya. Rimbun rahasiamu bukan untuk kujelajah. Harap menyapulenyapkan semua logika, dua jiwa rapuh yang saling jaga hanya omong kosong.  Kenangan benar-benar tenggelam di laut lepas, bukan begitu?  Bagimu, aku hanya persinggahan. Hatimu selalu tahu mana rumah yang sebenarnya.

Aku manusia, kamu teman lama.

Kabarmu kucari, kupendam, kulari.
 

Tuesday, April 2, 2019

Ruang Tunggu

Semesta bilang, “ruang tak harus punya dimensi. Ruang bagimu adalah masa.” Senyumku samar, hampir tak terlihat.

Aku mengecap keprihatinan hampir sepanjang usia, aku dekat dengan usaha, dengan nikmat yang terakumulasi.  Aku merasa sudah jadi baja.

Ruang tunggu membawaku mengenal sisi yang lain, ia menghentak menyadarkan. Nyatanya aku apa?

Sakit, sakit, panca inderaku hafal. Kemarin, aku dikoyak. Kemarin menangis tak hanya di sisi jendela, tak hanya malam saat sendirian. Tangis tak lagi terlihat, air mata bermuara, diam-diam dari dalam.

  Lalu.. Ia ada merengkuh senantiasa, aku hilang dalam peluknya, kami jadi satu, kami ramai mengadu, air mata mengikat, kami kuat.

Sayang, berdua mendambamu dalam ruang tunggu tak pernah mudah, setiap hari adalah perlawanan terhadap seribu rasa dan suara.

tetapi Dara, Semesta tak pernah salah mengalkulasi. Kini kami lekat semakin dekat. Cinta di segala penjuru, bahagia tercipta setiap kali. Baris kalimat tak pernah alpa mengalir.

Kami dua orang paling beruntung dalam ruang tunggu. Menanti, mencintai sebelum bertemu.