Tertatih melangkah di atas hamparan duri. Aku tak pernah berhenti.
Dihujam anak panah dari berbagai arah. Aku tak sembunyi.
Dijerat. Dicekik. Terlilit. Dimaki. Terbuang, dilupakan. Aku tak bersuara.
Hingga masuk masanya, Aku lelah selalu bungkam.
Kehidupan mendewasakan sekaligus mengerdilkan jiwa. Mengabaikan isak tangis seolah tak ada gunanya, kehilangan artinya.
Kamu menghamba kejayaan. Tolok ukurmu bukan kasih sayangku, peluhku untuk bahagiakanmu, darahku. Darahku.
Aku putuskan tali rasaku, aku gantikan dengan jembatan kokoh yang menyilaukan. Aku tutup rapat hatiku. Waktumu habis.
Aku pergi.
Dihujam anak panah dari berbagai arah. Aku tak sembunyi.
Dijerat. Dicekik. Terlilit. Dimaki. Terbuang, dilupakan. Aku tak bersuara.
Hingga masuk masanya, Aku lelah selalu bungkam.
Kehidupan mendewasakan sekaligus mengerdilkan jiwa. Mengabaikan isak tangis seolah tak ada gunanya, kehilangan artinya.
Kamu menghamba kejayaan. Tolok ukurmu bukan kasih sayangku, peluhku untuk bahagiakanmu, darahku. Darahku.
Aku putuskan tali rasaku, aku gantikan dengan jembatan kokoh yang menyilaukan. Aku tutup rapat hatiku. Waktumu habis.
Aku pergi.