“Kita terdampar. Kalau ternyata ada orang datang dengan perahu yang hanya muat untuk dua orang, Saya nggak mau ngancurin perahu—satu-satunya penyelamat—dan buat kita jadi tiga orang yang terdampar. Saya harus paksa kamu naik dengan orang yang paham cara berlayar." - Kalimatmu yang membuat kita sama-sama pergi.
Dalam rentang waktu yang sepertinya kamu lukiskan tanpa sadar, aku nyatanya bukan apa-apa. Dulu, aku percaya kita tak berantara, padahal sebaliknya. Rimbun rahasiamu bukan untuk kujelajah. Harap menyapulenyapkan semua logika, dua jiwa rapuh yang saling jaga hanya omong kosong. Kenangan benar-benar tenggelam di laut lepas, bukan begitu? Bagimu, aku hanya persinggahan. Hatimu selalu tahu mana rumah yang sebenarnya.
Aku manusia, kamu teman lama.
Kabarmu kucari, kupendam, kulari.
Dalam rentang waktu yang sepertinya kamu lukiskan tanpa sadar, aku nyatanya bukan apa-apa. Dulu, aku percaya kita tak berantara, padahal sebaliknya. Rimbun rahasiamu bukan untuk kujelajah. Harap menyapulenyapkan semua logika, dua jiwa rapuh yang saling jaga hanya omong kosong. Kenangan benar-benar tenggelam di laut lepas, bukan begitu? Bagimu, aku hanya persinggahan. Hatimu selalu tahu mana rumah yang sebenarnya.
Aku manusia, kamu teman lama.
Kabarmu kucari, kupendam, kulari.