Sunday, April 5, 2015

Bulan Mati

Kita sama-sama tahu, malam ini hujan deras. Aku tahu, malammu mendadak bising. Lamunanmu buyar, pecah. Dugaan yang susah-susah kamu rangkai dalam kepalamu turut menguap. Tak meninggalkan apapun selain kenyataan bahwa duniamu semakin kosong.


Kamu tahu? Buatku, satu persatu hal tentangmu pudar seakan kehilangan substansi. 
Aku berhenti berandai-andai, sebab belenggu ini nyata. Kamu nyaris tertelan dalam dimensi milikmu itu. 
Bukan aku yang punya kuasa atau bahkan jadi yang paling bertanggungjawab. Kamu tahu itu, kesadaran yang kamu dapat katanya, di sepertiga pertapaanmu. 

Sepotong Bulan Mati. Kamu menyalahkan ketiadaan pendar. 
Kesimpulanku, kamu tak akan pernah siap. Caramu membangun benteng yang kamu tujukan untuk menghindariku, amatir. Kamu justru disekat dalam ruang yang tidak pernah masuk dalam perhitunganmu. Melenyapkan kesadaranmu sekali lagi. Membuatmu tak habis menerka yang datang dalam hidupmu. 

Itu salahmu. 

Kini tanganmu coba menggapai entah apa. Aku sudah tidak lagi di sana. Aku mundur selagi kamu lelap dalam tidur malammu. Aku menepis jauh keinginan menjadikanmu satu-satunya sentra dalam kehidupanku. Masa-masa kelamku, justru saat aku memutuskan menjadikanmu sebagai candu. Aku hingar bingar, kamu terlalu senyap, terlalu gelap, terlalu rapuh. 


--

Sampai di situ, sajakmu utuh tak kehilangan rima. Namun aku menolak semua prasangkamu. Tak kamu temukan apapun nyatanya di Bulan Mati.
Malam ini hujan deras, yang kita sama-sama tahu, hanya kita tersesat bukan ada di jalan buntu. 

Suka atau tidak sama sekali..