Tuesday, November 17, 2015

Sepi Sempurna

Tulisan ini aku awali pada delapan detik pertama malam ke dua puluh empat.
Lampu kamar kuning sayup, mereka telah lelap sendiri-sendiri.

Meski parau, aku berani menyapamu lagi.
Meski tidak cukup genap mauku.
Meski ada mereka yang ramai-ramai menertawai keputusanku.

Lidahku sempat kelu. Semua alur cerita yang telah aku atur, tertahan entah dimana.
Aku mundur perlahan bukan untuk benar-benar menghilang, aku bertahan di kegelapan yang tidak begitu asing untuk mengatur ulang langkahku. Memantaskan diri. Menyadarkan diri. Kamu tak lagi pegang kendali, aku setengah berbisik. Hati-hati menjaga kesadaranku untuk tetap utuh, atau menghindari kemungkinan apapun akan ketakutan, atau barangkali kehancuran.

Tapi nyatanya aku berangkat.

Aku mengabaikan perasaanku ketika akhirnya kuputuskan memecah sunyi diantara kita. Tak lebih penting dari kesadaran yang aku dapat setelahnya. Tentang maksud yang hendak aku utarakan. Aku tak hirau, meski mereka katanya sibuk meletakkan neraka di seluruh penjuru. Aku tetap dengan tekadku menyampaikan ini;

Aku telah menghancurkanmu. Menghentikan langkahmu berkali-kali. Mencekik, mengambil hakmu untuk bernafas lega. Maafkan aku. Meski harus kuterima jika kamu tidak berkenan.
Aku tidak kembali untuk membuat strategi semacam apapun, merebutmu lagi, tidak.
Aku naik kelas pada tingkatan mencintai paling tabah. Konsep yang semula berawal dari kamu. Dulu aku belajar memahami, sekarang aku belajar menjalani. Hidup dalam semestaku memang sesederhana itu.

Malam kedua puluh empat, aku tak mungkin punya pemahaman semacam ini. Kala itu aku cuma tahu ada sepi, sepi paling sempurna.


Kegagalan yang berulang karena ulahku sendiri.
Ramalanku tentang kesendirian yang lambat laun menyergap, menampakan wujudnya.
Atau apapun ribut-ribut di kepalaku.
Aku akan hidup dengan itu. Menunggu siapapun datang memutus karmaku.

Aku mohon maaf, sekali lagi dan untuk selamanya.


















Sunday, April 5, 2015

Bulan Mati

Kita sama-sama tahu, malam ini hujan deras. Aku tahu, malammu mendadak bising. Lamunanmu buyar, pecah. Dugaan yang susah-susah kamu rangkai dalam kepalamu turut menguap. Tak meninggalkan apapun selain kenyataan bahwa duniamu semakin kosong.


Kamu tahu? Buatku, satu persatu hal tentangmu pudar seakan kehilangan substansi. 
Aku berhenti berandai-andai, sebab belenggu ini nyata. Kamu nyaris tertelan dalam dimensi milikmu itu. 
Bukan aku yang punya kuasa atau bahkan jadi yang paling bertanggungjawab. Kamu tahu itu, kesadaran yang kamu dapat katanya, di sepertiga pertapaanmu. 

Sepotong Bulan Mati. Kamu menyalahkan ketiadaan pendar. 
Kesimpulanku, kamu tak akan pernah siap. Caramu membangun benteng yang kamu tujukan untuk menghindariku, amatir. Kamu justru disekat dalam ruang yang tidak pernah masuk dalam perhitunganmu. Melenyapkan kesadaranmu sekali lagi. Membuatmu tak habis menerka yang datang dalam hidupmu. 

Itu salahmu. 

Kini tanganmu coba menggapai entah apa. Aku sudah tidak lagi di sana. Aku mundur selagi kamu lelap dalam tidur malammu. Aku menepis jauh keinginan menjadikanmu satu-satunya sentra dalam kehidupanku. Masa-masa kelamku, justru saat aku memutuskan menjadikanmu sebagai candu. Aku hingar bingar, kamu terlalu senyap, terlalu gelap, terlalu rapuh. 


--

Sampai di situ, sajakmu utuh tak kehilangan rima. Namun aku menolak semua prasangkamu. Tak kamu temukan apapun nyatanya di Bulan Mati.
Malam ini hujan deras, yang kita sama-sama tahu, hanya kita tersesat bukan ada di jalan buntu. 

Suka atau tidak sama sekali..