Aku menangisi ketiadaannya.
Namun sebentar kemudian, bahagia.
Karena sungguh aku tahu,
ia lekat pada 'kita'.
ia lekat pada 'kita'.
Tak lama, aku kembali muram.
Sebab tersesat diantara imajinasi lepasmu itu, sakit bukan main.
Seolah hidup terus, tapi tidak disadari.
Seolah melagu terus, tapi tidak didengar.
Seolah mati,
tapi tidak juga..
Ilusif.
Aku gagal memahami.