Dan aku pun masih terjaga semalam ini duhai semesta!
Bunga yang pada akhirnya kusaksikan mekarnya dalam bayang-bayang kepekatan. Wijaya kusuma yang telah sekian lama tidur kemudian kembali bangun. Membuktikan keramahan Tuhan kepada setiap nyawa.
Dan aku pun akhirnya berbagi denganmu kawan badaiku.
Merombak habis susunan rencana ku selama hampir enam belas pekan. Melupakan skenario mengenai hidupku yang telah dengan berani-beraninya sendirian melintasi banyak badai.
Awalnya Juni,demi Tuhan Juni adalah waktunya aku memceritakan bagaimana maha dahsyat aroma kenakalanku menusuk batang hidung adam yang semestinya tak ku kecup kala itu.
Aku dan jiwaku yang mati suri, kembali nyala, mengalahkan redup yang selama ini berpijar (seperti) sendirian saja. Kami kembali,menjadi satu bagian yang tidak sepenuhnya utuh namun saling merapat memberi hati,mencintai dan tidak perduli!
Lalu aku pun menunda dulu Juli,sebab Juni lagi-lagi, harusnya kutorehkan semua ini. Sebab pada Juni,padang bungaku seharusnya merayakan sebuah hari jadi ke satu. Pertama kalinya aku datang menyentuh yang tandus,yang tak punya air,dan yang kutemui hanya terik. Selamat,kamu masih bertahan walaupun akulah tukang kebun yang kurang bertanggung jawab itu.
Kemudian pada Juni ada sebuah perjalanan panjang. Kini aku adalah gadis jawa hampir sepenuhnya,akan kutempuh pendidikan di Semarang. Kota yang mereka bilang punya gereja tua paling megah dan indah itu. Kota yang menurutku belum terjamah. Aku yang senja itu memandang bukit pribadiku sendirian saja. Menghirupnya dalam-dalam,hawa gunung yang begitu kental bak kopi milik ibu! hey! tidak kah kau rasakan semangat ku ini?
Perjalanan yang memberiku banyak sekali pelajaran. Aku melihat banyak hal dalam kereta bisnis yang kutumpangi. Pelajaran nomor satu adalah,jangan berhenti berharap,kedengaran klise,namun,kudapatkan nasi goreng itu sebab ku berharap diam-diam dalam rasa lapar,ku mengeluh pada lelaki tambunku hingga ia mengamini harapanku yaitu mengenai kedatangan seorang pramugara yang membawakanku sepiring nasi,yang juga di iya kan ibu ku.Kemudian Tuhan bilang,Ya! dan itu benar-benar terjadi.
Yang kedua dan mungkin yang terakhir yang kuingat,kulukis saja secara sederhana. Bahwa berhentilah menilai sesorang dari tampilan luar,sebenarnya tampilan luar adalah kewajiban seorang humani untuk menyajikan se apik mungkin,sehingga kesan baik muncul.Lantas mau lihat apa lagi dari seseorang kalau bukan "cover" nya? jawabannya tunggu dan saksikan. Rasakan bagaimana sebuah keluguan harus menampakan bagaimana wujud seseorang tanpa sebuah kepura-puraan.
Kutemui preman (awal pemikiran ku) duduk berseberangan dengan bangku bisnis ku. Kuamati celana blue jeans lusuhnya,jacket jeans yang kerahnya dipangkas habis,mata yang tampak begitu merah,kemudian apa lagi yang kulakukan selain bergidik ngeri? Kemudian datang seorang perempuan cantik yang dibalut kepalanya dengan jilbab.
Awalnya,aku benar-benar menduga bahwa ialah perempuan paling sial di muka bumi,perempuan yang mungkin kupanggil Fatimah duduk dengan lelaki gahar bernama Remon. Kuamati hingga kereta berjalan. Kemudian malam menyesap lebih dalam,lebih pekat,dan lebih berisik. Fatimah terlihat begitu mengantuk.
Tanpa kuduga,Remon atau lebih jelasnya lelaki yang kukira preman itu mengisyaratkan sesuatu pada Fatimah,isyarat yang tak dapat kudengar. Sepersekian menit kemudian posisinya sudah begini : Fatimah duduk diatas bangku,sendirian saja. Lantas kemana Remon? rupanya ia sedang memastikan seluruh permukaan lantai kereta yang akan ia tiduri tertutup oleh koran seadanya. Remon mempersilahkan Fatimah menikmati kenyamanan yang sudah sepantasnya wanita dapatkan. Kemudian ia mempersilahkan kenyamanan dengan caranya sendiri,yang ia terima dengan lapang dada. Caranya yang begitu sederhana. Aku tertegun. Mengutuk perbuatan suudzon ku pada Remon,baiklah kuganti namamu bang, menjadi Ali. Kuperhatikan keduanya hingga kami sampai di Semarang. Mereka terbangun dan berjabat tangan. Subhanallah...
Tak lelah bercerita,aku masih mau berbagi sedikit tentang kekecewaan ku pada dua hal. Yaitu pada sebuah ketidakpantasan perangai seorang teman dan perbuatan meniru lagi-lagi oleh seorang teman. Aku kecewa,dan sepertinya sebatas itulah harus kunamai perasaan ini. Sebab rasa sayangku pada kalian lebih besar dari rasa kecewa yang tidak seberapa.
Terakhir, tulisan malam atau mungkin pagi ku ini,kupersembahkan khusus untuk calon ibu dokter yang pasti akan segera kutemui.Aku mulai menyayangimu sebagai seorang sahabat.
Mengerti atau tidak,inilah yang paling ingin kuteriakkan!
"aku mau hidup seribu tahun lagi.."
Bunga yang pada akhirnya kusaksikan mekarnya dalam bayang-bayang kepekatan. Wijaya kusuma yang telah sekian lama tidur kemudian kembali bangun. Membuktikan keramahan Tuhan kepada setiap nyawa.
Dan aku pun akhirnya berbagi denganmu kawan badaiku.
Merombak habis susunan rencana ku selama hampir enam belas pekan. Melupakan skenario mengenai hidupku yang telah dengan berani-beraninya sendirian melintasi banyak badai.
Awalnya Juni,demi Tuhan Juni adalah waktunya aku memceritakan bagaimana maha dahsyat aroma kenakalanku menusuk batang hidung adam yang semestinya tak ku kecup kala itu.
Aku dan jiwaku yang mati suri, kembali nyala, mengalahkan redup yang selama ini berpijar (seperti) sendirian saja. Kami kembali,menjadi satu bagian yang tidak sepenuhnya utuh namun saling merapat memberi hati,mencintai dan tidak perduli!
Lalu aku pun menunda dulu Juli,sebab Juni lagi-lagi, harusnya kutorehkan semua ini. Sebab pada Juni,padang bungaku seharusnya merayakan sebuah hari jadi ke satu. Pertama kalinya aku datang menyentuh yang tandus,yang tak punya air,dan yang kutemui hanya terik. Selamat,kamu masih bertahan walaupun akulah tukang kebun yang kurang bertanggung jawab itu.
Kemudian pada Juni ada sebuah perjalanan panjang. Kini aku adalah gadis jawa hampir sepenuhnya,akan kutempuh pendidikan di Semarang. Kota yang mereka bilang punya gereja tua paling megah dan indah itu. Kota yang menurutku belum terjamah. Aku yang senja itu memandang bukit pribadiku sendirian saja. Menghirupnya dalam-dalam,hawa gunung yang begitu kental bak kopi milik ibu! hey! tidak kah kau rasakan semangat ku ini?
Perjalanan yang memberiku banyak sekali pelajaran. Aku melihat banyak hal dalam kereta bisnis yang kutumpangi. Pelajaran nomor satu adalah,jangan berhenti berharap,kedengaran klise,namun,kudapatkan nasi goreng itu sebab ku berharap diam-diam dalam rasa lapar,ku mengeluh pada lelaki tambunku hingga ia mengamini harapanku yaitu mengenai kedatangan seorang pramugara yang membawakanku sepiring nasi,yang juga di iya kan ibu ku.Kemudian Tuhan bilang,Ya! dan itu benar-benar terjadi.
Yang kedua dan mungkin yang terakhir yang kuingat,kulukis saja secara sederhana. Bahwa berhentilah menilai sesorang dari tampilan luar,sebenarnya tampilan luar adalah kewajiban seorang humani untuk menyajikan se apik mungkin,sehingga kesan baik muncul.Lantas mau lihat apa lagi dari seseorang kalau bukan "cover" nya? jawabannya tunggu dan saksikan. Rasakan bagaimana sebuah keluguan harus menampakan bagaimana wujud seseorang tanpa sebuah kepura-puraan.
Kutemui preman (awal pemikiran ku) duduk berseberangan dengan bangku bisnis ku. Kuamati celana blue jeans lusuhnya,jacket jeans yang kerahnya dipangkas habis,mata yang tampak begitu merah,kemudian apa lagi yang kulakukan selain bergidik ngeri? Kemudian datang seorang perempuan cantik yang dibalut kepalanya dengan jilbab.
Awalnya,aku benar-benar menduga bahwa ialah perempuan paling sial di muka bumi,perempuan yang mungkin kupanggil Fatimah duduk dengan lelaki gahar bernama Remon. Kuamati hingga kereta berjalan. Kemudian malam menyesap lebih dalam,lebih pekat,dan lebih berisik. Fatimah terlihat begitu mengantuk.
Tanpa kuduga,Remon atau lebih jelasnya lelaki yang kukira preman itu mengisyaratkan sesuatu pada Fatimah,isyarat yang tak dapat kudengar. Sepersekian menit kemudian posisinya sudah begini : Fatimah duduk diatas bangku,sendirian saja. Lantas kemana Remon? rupanya ia sedang memastikan seluruh permukaan lantai kereta yang akan ia tiduri tertutup oleh koran seadanya. Remon mempersilahkan Fatimah menikmati kenyamanan yang sudah sepantasnya wanita dapatkan. Kemudian ia mempersilahkan kenyamanan dengan caranya sendiri,yang ia terima dengan lapang dada. Caranya yang begitu sederhana. Aku tertegun. Mengutuk perbuatan suudzon ku pada Remon,baiklah kuganti namamu bang, menjadi Ali. Kuperhatikan keduanya hingga kami sampai di Semarang. Mereka terbangun dan berjabat tangan. Subhanallah...
Tak lelah bercerita,aku masih mau berbagi sedikit tentang kekecewaan ku pada dua hal. Yaitu pada sebuah ketidakpantasan perangai seorang teman dan perbuatan meniru lagi-lagi oleh seorang teman. Aku kecewa,dan sepertinya sebatas itulah harus kunamai perasaan ini. Sebab rasa sayangku pada kalian lebih besar dari rasa kecewa yang tidak seberapa.
Terakhir, tulisan malam atau mungkin pagi ku ini,kupersembahkan khusus untuk calon ibu dokter yang pasti akan segera kutemui.Aku mulai menyayangimu sebagai seorang sahabat.
Mengerti atau tidak,inilah yang paling ingin kuteriakkan!
"aku mau hidup seribu tahun lagi.."
![]() |
| Blur. Namun kurang lebih,seperti inilah nasi gorengnya! |
![]() |
| Aku,ibu,dan kereta bisnis yang super........" |

