"Aku melihatnya berlari di sela-sela buku. Aku melihat bagaimana rambut hitam pekatnya mengibas liar. Aku memandangnya hingga tak kutemukan lagi sosoknya. Aku mencari. Aku menunggu. Merasakan detak jantung yang sama liarnya berdetak,liar yang melebihi kuda manapun. Kemudian ia ada. Ia berbalik,kembali berlari namun hanya setengah langkah,aku menangkap gerakan ekor matanya,ia juga..... Memandang ke arahku,menyadari keberadaan ku,dan terlihat kepayahan menyembunyikan rindu yang sepertinya tabu untuk kembali dibagi. Kejadian 5 menit yang mengganggu tidur-tidur malamku"
Rin melamun. Ia tak habis pikir akan mengalami kejadian yang tak pernah ia harapkan. Bukan bencana bukan pula kesialan. Hanya bertemu lelaki,namun lelaki yang salah.
Rin cepat-cepat mengubur persepsinya mengenai perpustakaan yang tak lagi aman. Baru pertama kalinya Rin dibuat galau oleh perpustakaan. Kegalauan Rin dalam perpustakaan hanya sebatas tak menemukan seri ke-10 dari Balada si Roy atau ketika ia harus memilih 2 diantara 10 buku yang ingin dipinjamnya.
Rin tak pernah mau mengungkit Dan. Namun perpustakaan membawa Rin kembali pada angan-angan tentang Dan. Dengan santai pintunya terbuka kemudian mempersilahkan Dan masuk ke dalamnya,itu sama saja mempersilahkan Dan masuk lagi dalam hati Rin,hidup Rin.
Tak pernah ada lagi izin buat Dan untuk masuk dalam benak Rin juga mengganggu tidur-tidur malam Rin. Dan sudah pergi setahun lalu. Entah dengan argumentasi logis semacam apapun,"Aku mau mencari ibuku" Rin mengenang kata-kata Dan yang lantas pulang lagi tanpa kisah apapun,tanpa kesan apapun,seolah Rin hanya memori singkat yang tak pernah dianggap ada oleh nya. Rin tidak terima,tidak pernah pula siap untuk kedatangan Dan lagi,tak pernah sampai kapanpun,kalau seperti ini caranya.
*****
"Rin hanpir 3 hari kamu ngelamun terus,ada apa sih?"
"May aku mau tanya?"
"Lha,aku yang tanya kamu duluan Rin!"
"May kira-kira buat apa anak futsal masuk perpus?"
"Ha? maksud kamu Rin?"
"Memang mereka doyan baca juga May?"
"Rin aku nggak ngerti kamu ngomong apa?!"
"Lagian mereka punya markas sendiri kan May?"
May menutup mulut Rin. Dengan gusar ia memandang kedua mata coklat Rin. Tangan putihnya kontras sekali dengan kulit wajah Rin yang hitam namun manis. Sedari tadi,sahabatnya itu tak menjawab pertanyaan nya,ia malah bertanya tanpa henti,walalupun tak satu pun pertanyaan Rin yang ia jawab.
Rin diam saja,ia pasrah pada perlakuan May. Ia seperti menyadari sesuatu bahwa sedari tadi ia membuat May kesal. "Maaf May.." Rin nyengir.
*****
May boleh jadi heran. Sejak kapan Rin mulai bersajak lagi? Setau May,Rin itu sedang dirasuki kalau sedang membuat sajak,pasti ada hal yang mengganggu pikiran sahabatnya itu. Rin memang emosional dan ekspresif. Ia selalu menuangkan semua itu dalam tulisan. Rin selalu santai bila ditanya mengenai tulisan nya yang luar biasa hebat untuk May dan juga banyak orang. "Aku lagi dirasuki May,ngalir aja,itu mungkin bukan aku,kali aja"
May membaca sajak-sajak Rin saat Rin pergi ke perpustakaan,sajaknya tertinggal atau entah sengaja ditinggalkan di meja.
Rin memang sembrono. Ia tak pernah memperhatikan nasib tulisannya. Rin bisa jadi penulis sajak paling tersohor bila ia berkenan menitipkan karya nya pada majalah atau tabloid. Sajak-sajak Rin kini berada dalam genggaman May. Ikut bersama May untuk pulang ke rumah,seperti biasa Rin selalu menolak jika diajak berkunjung ke rumah May.. Alasannya ramai dan banyak anak-anak,Rin kurang betah. May memang tinggal di panti asuhan bersama puluhan anak yang tak diberi kesempatan merasakan hangatnya belaian ibu.
*****
"Baru pulang juga?" Sapa May sewaktu melihat temannya sesama anak panti yang hendak membuka pintu pagar.
Lelaki itu menoleh,tersenyum seadaanya kemudian mengangguk.
"Naik apa?" Mereka berjalan beriringan menuju rumah. "Angkot" jawabnya singkat.
"Gak latihan futsal?" Kemudian lelaki itu hanya menggeleng. Mereka berpisah di depan pintu,May menuju kamarnya di bawah sedangkan lelaki itu di atas.
May santai saja dengan perlakuan dingin lelaki itu. Ia memang seperti itu. Entah apa yang ada dalam benaknya.
*****
"May,kamu bawa tulisan2 ku di meja ya?" Suara Rin terdengar bingung di ujung telepon. "Anu Rin emmm..." "Jawab aja May aku nggak marah kok cuma tanya aja" May menghela nafas panjang "Iya Rin,maaf ya habis kupikir kamu nggak bawa itu pulang dari pada hilang Rin,bagus" Rin kemudian diam sejenak. "Rin?" May memastikan apakah Rin masih berada disana... "May besok bawa ya sajak-sajakku" Rin tiba-tiba bersuara.
May sebenarnya bingung,May keheranan,sejak kapan Rin peduli terhadap tulisan nya? namun May mengurungkan niatnya untuk bertanya,ia hanya mengiyakan perintah Rin padanya.
"May,makan!" Suara lelaki dari ujung telepon membuat Rin terhenyak. "May udah dulu ya,malam" tut.... Secepat kilat Rin menutup telpon. Langkahnya gontai menuju kamar,ia lemas,menyayangkan kejadian 10 detik yang lalu. Kenapa harus dengar sih?! Gerutu Rin dalam hati.
Rin meremas dadanya. Sesak. Seperti biasa. Entah bagaimana gambaran perasaan Rin saat ini. Ia sudah bolak-balik mengusap pipinya,mengusir bulir-bulir air mata dari kulit hitam manisnya. Rin benci harus menangis. Akhirnya ia memilih tidur dan melupakan kejadian barusan.
sementara itu di panti asuhan..
Dan melamun. Ia menatap lembaran-lembaran sajak yang ditinggalkan May di meja makan. Memperhatikan inisial nama yang tertera di akhir baitnya "AA" dada nya mendadak sesak. Berulang kali ia menghela nafas panjang. Dan boleh jadi gamang saat ini. Kalau bukan lelaki Dan pasti menangis. Sajak-sajak yang dialamatkan padanya. Seutuhnya tanpa cacat. Begitu indah dan dalam. Dan mengulang sajak-sajak Rin. Dan melayangkan ingatan nya pada senin sore. Saat itu ia hendak mengambil tempat pensil nya yang tertinggal di perpustakaan saat pelajaran biologi. Kemudian kenapa harus Airin? Kenapa? Kenapa harus beradu pandang? Dan menyesali semua kejadian itu. Rin adalah mimpi terindah Ardan yang entah kini menghilang kemana. "Ini salahku." Dan mengutuk dirinya dalam hati. Malam ini,akan jadi malam terpanjang buat Dan. Ia akan memohon kepada Tuhan untuk mengembalikan mimpi terindahnya.
Tok tok tok. May menggerutu,siapa yang mau main ke kamarnya malam-malam begini sih.dengan malas ia membuka pintu kamarnya. "Sia....pa.... Ardan? Ada apa?" May agak kaget. "Kamu ninggalin ini di meja makan" ujar Dan sembari menyodorkan sajak-sajak milik Rin "astaga! Untung gak hilang,makasih ya Dan" Ardan mengangguk kemudian berlalu.
*****
Rin datang lebih awal menunggu May. Entah mengapa ia punya perasaan bersalah meninggalkan sajak-sajak miliknya kemarin. Entah sejak kapan menyimpan sajak jadi prioritas buat Rin,dulu ia tak peduli dengan keberadaan sajak-sajaknya. Baginya setelah menulis,urusan selesai. Mungkin sekarang semua berubah, karena Dan,,Rin jadi rela menjadi orang yang bahkan asing dimata nya sendiri.
"Rin!" May setengah berlari menuju Rin,ia terlihat kepayahan mengatur nafas. "Buruan nih pegang! Didit sama Bayu lagi gelut,masih pagi Rin! Aku mau lihat,nih nih pegang" Rin menyahut lembaran kertas yang disodorkan May secara terburu-buru. Didit dan Bayu? Rin hanya tersenyum sinis sambil menggelengkan kepala. Baginya tak ada yang lebih ingin dilakukannya selain memastikan sajak-sajaknya utuh dan baik-baik saja.
Rin melihat lembar demi lembar tulisannya. Ia baca kembali sajak-sajak itu. Semua tentang Dan. Rin menahan perasaan nya,menghela nafas kemudian... Tiba-tiba dada Rin berdegup kencang,ada yang aneh dengan kumpulan kertas itu,ada pendatang baru rupanya. Sebuah kertas buku berwarna kuning gading,dan tulisan yang sudah pasti bukan milik Rin. Diambilnya kertas itu perlahan. Rin mulai membaca.
Rin terpekik. Nafasnya seperti tertahan. Air matanya tumpah. Rin menangis sesunggukan. Ia mencengkram erat rok abu-abunya. Rin menjerit. Ruangan kosong yang menjadi saksi bisu kepayahan Rin menahan luapan emosi yang pada akhirnya tumpah.
Tidak ada siapa-siapa. Hanya ada Rin dan kertas kuning gading yang bukan kepunyaan Rin.
Kini remaja Rin sedang berlari menuju perpustakaan. Menembus keramaian massa yang mengerubuti Didit dan Bayu. Memaksa lutut yang sebenarnya sudah luar biasa lemas untuk berlari. Menghiraukan teriakan May. Rin berlari lebih kencang dari apapun. Berlari menuju adam yang mengusik tidur malamnya. Adam yang mengharapkan mimpi indahnya kembali. Kini,mimpi indah itu sedang berada dalam perjalanan nya.
"Aku tau kau berada di dalam. Aku tau kau terusik saat aku berlari. Aku tau kau memperhatikanku. Aku tau bagaimana jantungmu melaju kencang tanpa seorang supir sebagai pengendali. Aku tau bagaimana susahnya menahan rindu yang tak bisa lagi dibagi. Aku tau bagaimana aku mengusik tidur malammu. Aku tau
Aku pun terusik melihat mu dengan keanggunan yang tak ikut tertutup oleh kerudungmu. Keanggunan yang justru makin terpancar. Aku pun lemas ,lututku hampir lepas saat berlari. Aku pun memperhatikanmu. Jantungku pun melaju sendiri Aku pun susah payah menahan rindu yang sangsi untuk dibagi lagi denganmu.
Rin,aku tunggu kamu di perpustakaan pagi ini. Rasanya,aku merindukan mimpi indahku di malam hari"
AA
Ardan Airin